Belajar Berhenti Sejenak: Menemukan Arah Kampanye Bermakna di RHD Fest 2025
Penulis: Umi Sayidatus Zakiya
Yogyakarta, 30 Desember 2025. Pagi yang cerah kala itu, Ruang Henti Digital (RHD) Fest 2025 resmi dibuka pada 20 Desember 2025 di Porta Hotel Yogyakarta. Acara tahunan yang sebelumnya bernama Web Canvas Rally ini menghadirkan wawasan dari para praktisi digital marketing terkemuka, dibuka dengan sesi inspiratif Radius Arianto (CEO & Founder TurnBackLink) selaku inisiator, serta diisi oleh sejumlah pembicara nasional dari Ideax Digital, DailySEO ID, PANDI, Harika Digital, dan ToffeeDev.
Sungguh beruntung, saya turut andil menjadi peserta mewakili Geopix dalam kegiatan menarik ini. Konsepnya unik karena menghadirkan para suhu di dunia Search Engine Optimization (SEO) dan Digital Marketing Indonesia yang menggabungkan konferensi secara luring dan workshop secara daring yang nantinya akan digelar pada bulan Januari 2026.

RHD Fest merupakan ruang belajar bersama bagi saya yang sehari-hari bergulat dengan dunia digital dengan mereka yang ahli di teknis digital dan progaming. Sepanjang dua hari, topik-topik presentasi dan diskusi sangatlah menarik, mulai dari perilaku audiens di masa depan, strategi SEO, hingga peran AI dan domain dalam pengelolaan website. Ritmenya padat, tapi tidak terasa kaku. Selama ini, Geopix menjalankan kampanye digital di bidang lingkungan dan satwa liar dan menjadikan ruang digital sebagai medium utama. Visual, data, dan narasi kami gunakan untuk membawa isu-isu ekologis ke ruang publik, agar tidak berhenti sebagai unggahan semata, tetapi memicu rasa ingin tahu dan kepedulian, yang akhirnya menjadi suatu aksi yang bermakna. Karena menggunakan basis platform yang sama dengan yang digunakan dalam marketing, di RHD fest inilah jembatannya, untuk bisa memahami bagaimana strategi digital, pemasaran, dan pengelolaan audiens berproses dan bekerja, yang merupakan pengetahuan dan skill yang cukup kritis agar kampanye lingkungan dapat menjangkau lebih banyak target audiens dan story telling yang tepat untuk membawa nilai-nilai yang diperjuangkan.
Di ajang RHD Fest, saya bertemu banyak public figure yang luar biasa dari dunia digital, marketer, kreator, busniess owners, komunitas, hingga pelaku UMKM, yang duduk di ruang yang sama, menyimak dan bertukar pengalaman. Pembahasan banyak berfokus pada algoritma, Ads, jangkauan, dan strategi. Bagi Geopix, dialog-dialog itu memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa kampanye digital dijalankan, dan ke arah mana pesan ingin dibawa, dan bagaimana cara kita membawakannya? Di titik ini, saya sadar bahwa kekuatan digital tidak boleh hanya berhenti pada viralitas kampanye, tetapi juga pada pilihan nilai yang menyertainya dan bagaimana kita semua memenangkan nilai tersebut.
Kampanye Geopix selama ini dibangun dengan prinsip yang tampak sederhana, menyampaikan isu lingkungan apa adanya, tanpa dramatisasi berlebihan yang mengedepankan nilai-nilai penghormatan terhadap bumi sebagai ruang hidup bersama. Prinsip itu terasa relevan dengan banyak pembahasan di RHD Fest, terutama ketika para pembicara menyinggung pentingnya kejujuran, konsistensi, dan keberlanjutan dalam membangun audiens. Di tengah derasnya arus konten, justru pendekatan yang jujur dan berpijak pada nilai yang cenderung bertahan lebih lama.

Algoritma media sosial sangat dinamis saat ini, perilaku penggunanya tidak bisa lagi diprediksi dengan mudah untuk mendapatkan atensi dan klik aksi mereka. Meskipun demikian, kampanye digital tidak selalu harus besar dan menggunakan iklan sehingga sampai harus boncos untuk bisa berdampak. Kadang, satu visual yang tepat atau satu kalimat yang jujur sudah cukup untuk menggeser cara pandang seseorang. Inilah yang ingin saya pelajari untuk mengedukasi publik dengan jangkauan yang lebih luas, termasuk mereka yang mungkin belum pernah bersentuhan langsung dengan isu pelestarian hutan atau satwa liar, tapi berpotensi untuk bisa melakukan suatu perubahan.
Kampanye lingkungan di ruang digital perlu terus belajar dan beradaptasi, tanpa kehilangan arah dan substansinya. Bahwa di balik click, like and share, selalu ada cerita yang perlu dijaga maknanya serta selalu ada pesan yang harus tersampaikan dengan baik, apalagi di era kecerdasan buatan atau AI, dimana semuanya yang berkenaan dengan produksi digital jauh lebih mudah, tetapi juga pada hakekatnya sarat akan tantangan, bias imajinasi dan intelectual property rights. Kita saat ini tidak bisa membendung pengaruh AI, tapi ada satu prinsip yang ditanamkan para coach di RHD Fest, bahwasanya kita manusialah yang harus menjadi tuannya AI dan kita harus bisa mengoptimalkannya, bukan sebaliknya, sehingga adalah niscaya untuk menguasai AI dan tetap mempertahankan sisi etika, kreativitas dan kemanusiaan kita.
Semesta mendukung, hari kedua RHD Fest merupakan hari keberuntungan saya, senang sekali karena memenangkan game undian dari panitia dan mendapatkan hadiah buku yang berjudul “SEO Game Plan”, terimakasih banyak panitia RHD Fest 2025! Menutup sesi conference di RHD Fest, Saya makin menyadari dan bermunculan ide-ide baru dan potensi kolaborasi untuk dilakukan. Sangat excited dengan sesi workshop online mendatang dan mudah-mudahan dapat membangun gerakan bersama di jaringan ini untuk menghubungkan cerita, kepedulian dan aksi yang nyata yang dibutuhkan ibu bumi kita.



