Kartini dan Perjuangan Perlawanan Perempuan Konteks Kini

Penulis: Annisa Rahmawati
Hari ini diperingati sebagai Hari Kartini untuk mengenang seorang pahlawan perempuan yang memperjuangkan kesetaraan perempuan dalam mengambil aksi atau tindakan yang lebih jauh, karena memiliki kapasitas yang mumpuni untuk bisa melakukan transformasi dan perubahan untuk nasib bangsa yang lebih baik.
Sekat-sekat tembok yang dibangun dalam kultur jawa yang feodalis dan saklak bersifat ‘melindungi’ kaum perempuan dengan budaya patriarkis bukannya tanpa tujuan, tapi ingin membentuk suatu tatanan yang rapi dan teratur yang berangkat pada suatu nilai yang kita mesti akui juga demikian luhur, tapi bukan itu yang kita bahas kali ini.
Tapi mari kita renungkan, bagaimana Kartini muda mampu mendobrak sekat tembok yang tinggi dalam sistem kultur Jawa tersebut. Ada dua hal yang ingin saya soroti disini, pertama, bahwa Kartini memiliki privilege sebagai putri seorang bangsawan. Dengan privilege itu, beliau memiliki network terhadap dunia luar (baca: Belanda). Yang kedua dengan kemampuan membaca dan komunikasi yang mumpuni, serta kemampuan menganalisa situasi ketidakadilan yang terjadi dalam dirinya, maupun sesamanya dan mampu mengekspresikan perasaan dan pikiran nya yang otentik dengan sangat baik secara lisan maupun tulisan, hingga memberikan pendidikan dan skill kepada perempuan yang kurang privilege di lingkungannya agar juga mampu mengambil peran dalam masyarakat.
Ibu Kartini boleh berbangga, karena saat ini jalan gelap itu menjadi terang dan terbuka bagi seluruh perempuan Indonesia yang terinspirasi jejak mulianya. Kita bisa menyaksikan peran kaum perempuan bersama mitra kaum laki-laki di segala sektor dan berkontribusi bagi pembangunan, termasuk perlindungan lingkungan. Namun, di tengah krisis lingkungan yang semakin mendesak, pesan Ibu Kartini terasa sangat penting.
Bukan hanya berbicara tentang bagaimana perempuan harus terdidik, tetapi Kartini juga berbicara tentang perempuan yang sadar. Sadar terhadap kemampuan dirinya sendiri, terhadap lingkungannya dan ketidakadilan yang terjadi terhadap alam dan sesamanya serta mengambil tindakan untuk melawan tatanan yang merusak itu.
Cita-Cita Kartini Belum Selesai
Kartini pernah menulis,“Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.”
Kartini mewariskan kepada kita kaum perempuan, suatu pesan agar kita berani untuk keluar dari sistem dan cara-cara lama yang menjebak kita dalam pola yang sama, termasuk dalam konteks kini adalah terhadap model pembangunan dan sistem ekonomi yang merusak. Hutan dibuka, habitat satwa dihancurkan, dan bumi terus dieksploitasi atas nama pembangunan strategis dan pertumbuhan ekonomi yang tidak sepadan dengan nilai kehidupan.
Jika Kartini hidup hari ini, beliau mungkin akan bertanya:mengapa kita tetap bertahan dalam sistem yang merusak kehidupan itu sendiri?
Kita sering menyebut bumi sebagai ibu kita, tapi manusia ‘modern’ lebih menjadikannya sebagai komoditas untuk profit, padahal bumi menghidupi kita dengan air, udara, pangan, dan banyak lagi. Manusia yang jahat dan serakah justru mengurasnya mengambil tanpa batas dan menciptakan krisis di planet ini: lingkungan dan kemanusiaan.
Di tengah krisis ini, perempuan lah yang pertama merasakan dampaknya baik terhadap dirinya maupun keluarga dan komunitasnya, sehingga banyak tempat, perempuan menjaga hutan, mempertahankan sumber air, dan melindungi ruang hidup yang lebih luas. Perempuan-perempuan ini adalah sebuah harapan bagi keberlangsungan hidup di bumi
Melindungi dan Melestarikan Bumi adalah salah satu bentuk tindakan Perlawanan
Kartini pernah menulis, “Habis gelap terbitlah terang.” Namun terang tidak datang dengan sendirinya, tapi tercipta dari keberanian dan kemampuan untuk bertindak.
Saat ini melindungi dan melestarikan bumi bukanlah sebuah pilihan, melainkan suatu kebutuhan untuk bertahan hidup. Melindungi satwa liar, menjaga hutan, dan mempertahankan ekosistem adalah bentuk perlawanan terhadap sistem yang melihat alam hanya sebagai komoditas. Sungguh tidak mudah, karena perempuan juga dihadapkan dengan berbagai pilihan sulit dalam hidupnya. Kartini mengajarkan bahwa perempuan harus berani berpikir dan bersuara, dan suara kita yang makin nyaring dibutuhkan dan menjadi semakin penting dalam mengatasi krisis lingkungan.
Melanjutkan Perjuangan Kartini
Peringatan Hari Kartini seharusnya bukan tentang kebaya atau kain panjang atau karnaval baju daerah tetapi seharusnya tentang memintal kembali kesadaran kaum perempuan dan kaum laki-laki untuk berjalan harmonis menentukan arah masa depan bersama di planet ini. Kesadaran untuk berani mempertanyakan sistem yang merusak alam, keberanian menjaga bumi sebagai ruang hidup bersama, dan memastikan bahwa generasi berikutnya masih memiliki masa depan.
Harapan untuk Bumi
Di tengah krisis ekologis hari ini, diam adalah pilihan, dan diam berarti membiarkan kerusakan terus terjadi. Sudah saatnya kita melanjutkan perjuangan Ibu Kartini bukan hanya untuk kebaikan perempuan, tetapi juga untuk bumi yang lestari karena keadilan tidak akan pernah utuh, jika alam terus dikorbankan.
SELAMAT HARI KARTINI!
