EnvironmentPeople
Trending

Memayu Hayuning Tirta: Air, Iklim, dan Kehidupan

Foto: center for Orangutan Protection

Penulis: Cakrahayu Arnavaning Gusti 

Masih dalam suasana merayakan hari bumi, dalam kegiatan Dating APES diselenggarakan oleh Centre for Orangutan Protection (COP) yang bertempat di Ape Warrior Camp, Yogyakarta, saya berkesempatan untuk hadir, dimana narasumber kali ini adalah kak Resa Fondania, Lead Coordinator Earth Hour Jogja. 

Kak Resa merupakan lulusan S1 Teknik Geologi dengan spesialisasi geologi tata lingkungan dan hidrogeologi. Latar belakang tersebut membentuk kepeduliannya terhadap isu air dan lingkungan. Ketertarikannya berangkat dari kesadaran bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari alam, terutama air sebagai kebutuhan dasar. Di tengah tekanan industrialisasi yang semakin masif, ia melihat pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan keberlanjutan lingkungan. Baginya, jika isu air diabaikan, maka dampaknya akan dirasakan oleh seluruh makhluk hidup. Oleh karena itu, keterlibatannya dalam isu ini menjadi bentuk komitmen untuk memastikan bahwa air tetap terjaga sebagai sumber kehidupan bagi semua.

Foto: Center for Orangutan Protection

Mengusung tema “Memayu Hayuning Tirta: Air, Iklim, dan Kehidupan Berkelanjutan”, yang berarti upaya merawat dan menjaga keharmonisan air agar tetap memberi kebaikan bagi kehidupan, kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus refleksi tentang peran penting air dalam kehidupan.

Kegiatan ini terbuka untuk umum, termasuk diikuti oleh Orangufriends Yogyakarta yang memiliki kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan dan satwa. Melalui pendekatan yang komunikatif dan menarik, kak Resa Fondania sangat mengajak peserta untuk memahami bagaimana siklus air bekerja, bagaimana status ketersediaan air di bumi termasuk di Indonesia yang semakin menghadapi tantangan, serta bagaimana air berperan penting dalam menjaga keseimbangan iklim dan ekosistem lingkungan. Berdasarkan data Map of National Indicator 6.3.2 dari 120 negara, yang menunjukkan proporsi badan air dengan kualitas baik, Indonesia ditandai dengan warna merah, yang mengindikasikan kualitas air yang masih tergolong rendah.

Selain itu, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga berdiskusi secara aktif bersama kak Resa. Berbagai isu diobrolkan, mulai dari perubahan pola musim, krisis air di beberapa wilayah, hingga hubungan erat antara pengelolaan air dan keberlanjutan hidup manusia. Suasana yang interaktif membuat peserta lebih mudah memahami bahwa air bukan sekadar kebutuhan dasar, melainkan pondasi bagi kehidupan itu sendiri.

Foto: Center for Orangutan Protection

Beberapa isu lingkungan yang kita hadapi saat ini semakin menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Menurut kak Resa, air kini tidak hanya semakin langka, tetapi juga semakin tercemar. Secara global, sekitar 2,2 miliar orang masih belum memiliki akses terhadap air minum yang aman, dan sekitar 10% populasi dunia hidup dalam kondisi kekurangan air yang tinggi. Di sisi lain, memburuknya kondisi iklim turut memperparah situasi ini, yang berdampak langsung pada ekosistem. Salah satunya terlihat pada terumbu karang yang mengalami bleaching serta pertumbuhan yang lambat akibat menurunnya proses fotosintesis.

Dalam sesi wawancara dengan Geopix, kak Resa menyoroti dampak permukiman di bantaran sungai terhadap kualitas lingkungan. Ia menyampaikan, 

“Ketika membangun pemukiman di sana akan mengganggu ekosistem, satwa, dan kehidupan di sekitarnya.” 

Pernyataan ini menegaskan bahwa alih fungsi bantaran sungai tidak hanya berdampak pada kualitas air, tetapi juga merusak habitat alami yang seharusnya menjadi ruang hidup bagi berbagai organisme. Selain itu, ia juga menambahkan bahwa kondisi ini berisiko bagi manusia, karena ketika ada banjir, mereka yang pertama akan terdampak.

Menanggapi upaya pemulihan sungai, kak Resa menjelaskan bahwa keberhasilannya tidak bisa dilihat secara instan. 

“Apakah itu benar-benar bekerja atau sesuai dengan kaidah lingkungan, tentu akan terlihat dari evaluasi, misalnya dari habitat dan ekosistem yang kembali tumbuh.” 

Artinya, pemulihan sungai perlu diukur dari bagaimana kehidupan alami dapat kembali terbentuk. Meski demikian, ia melihat adanya perkembangan positif, di mana kesadaran mulai tumbuh bahwa bantaran sungai seharusnya tidak dijadikan permukiman, disertai langkah awal seperti penanaman dan revitalisasi.

Ada yang menarik, terkait fenomena ikan sapu-sapu yang menjadi invasif di dalam ekosistem sungai, kak Resa juga mengingatkan adanya ancaman terhadap keseimbangan ekosistem. Ketika populasi yang dapat menurunkan populasi ikan endemik.” 

Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan spesies invasif dapat mengganggu rantai makanan dan keseimbangan alami di dalam ekosistem sungai. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan yang tepat, termasuk kemungkinan pembatasan populasi, meskipun mekanisme terbaiknya masih perlu dikaji lebih lanjut.

Foto: Center for Orangutan Protection

Saatnya kita bertindak.

Pesan kak Resa yang masih terngiang dalam ingatan saya adalah: Mulailah dari langkah sederhana, gunakan air secara bijak, jaga kebersihan lingkungan, dan ikut berkontribusi dalam upaya pelestarian sumber daya air di sekitar kita. Karena perubahan besar selalu dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan bersama.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button