Spirit Kolaborasi di Hua Hin
Oleh; Annisa Rahmawati
Sebuah kebanggaan bagi Geopix yang pada tahun ini berkesempatan untuk menghadiri undangan dan berpartisipasi dalam kegiatan Wild Animal Rescue Netwok (WARN) Asia Conference 2025. Konferensi WARN Asia tersebut diselenggarakan di Hua Hin, Thailand, mempertemukan hampir 100 peserta dari 47 organisasi penyelamat satwa liar, yang berasal dari kurang lebih 20 negara. Kegiatan tahunan ini merupakan kegiatan terbesar dalam sejarah perjalanan aktivitas jaringan ini.
WARN merupakan koalisi regional yang berfokus pada penguatan kapasitas pusat penyelamatan satwa liar, peningkatan edukasi konservasi, serta penerapan standar minimum perawatan bagi satwa liar. Konferensi diselenggarakan selama tiga hari penuh yang diisi dengan pembelajaran-pembelajaran bersama, membangun kolaborasi, dan pertukaran pengetahuan di antara para aktivis, praktisi lapangan, ahli satwa liar dan konservasi dari lembaga Non Governmental Organization (NGO) dan unsur-unsur Pemerintah, dari seluruh Asia.

Dalam konferensi ini, Geopix dengan penuh semangat membawa misi untuk memperkuat kolaborasi regional dalam perlindungan satwa liar, memperdalam pengetahuan teknis terkait penyelamatan dan rehabilitasi satwa, meningkatkan kapasitas investigasi dalam menangani perdagangan satwa liar ilegal, serta memperkaya strategi komunikasi untuk mendukung kampanye konservasi yang lebih berdampak. Selain Geopix, dari Indonesia, juga hadir para kolega jejaring dari Center for Orangutan Protection (COP), Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Asia for Animal Coalition (Afa), Aspinall Foundation dan Sumatera Orangutan Conservation Program (SOCP).

Mengawali konferensi, dibuka dengan sambutan dari Executive Board WARN Asia Edwin Wiek dan perwakilan Pemerintah Thailand dari The Department of National Parks, Wildlife and Plant Conservation (DNP) Thailand, dan kemudian dilanjutkan dengan presentasi peserta dari berbagai organisasi secara maraton selama tiga hari dengan mengambil berbagai ragam topik terkait satwa liar dari teknik penyelamatan, rehabilitasi, penanganan penyakit dan konflik satwa liar-manusia, termasuk diskusi mengenai pengelolaan satwa liar dan memperkuat jejaring regional. Yang tidak kalah menariknya adalah perawatan seumur hidup bagi satwa non-releasable, isu kepemilikan singa, serta strategi pengurangan konsumsi daging satwa liar.

Penegakan Hukum dan Perlindungan Habitat
Sesi mengenai penegakan hukum dan perlindungan habitat dalam WARN Asia 2025 menghadirkan sejumlah pembelajaran penting bagi seluruh jejaring organisasi. Dalam aspek penegakan hukum, berbagai studi kasus dari Malaysia, Thailand, dan negara lain, termasuk Indonesia menunjukkan bahwa kolaborasi lintas-negara dan lintas-lembaga yang melibatkan NGO, polisi, bea cukai, jaksa, dan otoritas satwa liar menjadi kunci keberhasilan dalam memerangi perdagangan satwa ilegal. Tren seperti konvergensi kejahatan satwa liar yang melibatkan jejaring-jejaring kejahatan terorganisir lainnya seperti jejaring perdagangan narkoba, jejaring perdagangan senjata ilegal dengan tumpang tindih untuk memanfaatkan sumber daya bersama, kemudian pergeseran perdagangan satwa liar ilegal ke platform daring, serta peningkatan kebutuhan dokumentasi forensik dan manajemen barang bukti menegaskan bahwa kompleksitas tersebut memerlukan pendekatan investigasi yang harus semakin profesional. Wawasan ini sangat relevan bagi Geopix untuk memperkuat dukungan investigasi dan advokasi terkait kejahatan satwa liar di Indonesia.
Pada sesi pembelajaran berama, Geopix menyampaikan paparan yang berjudul: “Bukit Tigapuluh Ecosystem Broken Corridors: A Threat on the Sumatra Elephants’ Protection” . Paparan tersebut mengungkap krisis yang terjadi pada populasi gajah Sumatera di Bentang Alam Bukit Tigapuluh yang terancam pagar listrik dan perambahan yang masif. Geopix juga membangun kesepahaman bersama dengan meminta dukungan moral dari peserta dan jaringan yang ada di WARN, serta memperkuat penggalangan petisi yang meminta Michelin Group agar segera bertindak cepat membongkar pagar-pagar listrik yang ada di areal konsesinya untuk menyelamatkan populasi Gajah Sumatera di Bentang Alam Bukit Tigapuluh sebagaimana komitmennya.

Tantangan dalam Perlindungan Habitat di Asia
Dalam aspek perlindungan habitat, pengalaman dari Vietnam, Taiwan, Mongolia, Sabah, Thailand, dan Indonesia, menggambarkan betapa fragmentasi habitat akibat perambahan dan infrastruktur berbahaya seperti pagar listrik non-standar menjadi pendorong utama meningkatnya konflik manusia–satwa.
Pendekatan berbasis data seperti pemetaan koridor jelajah, restorasi kawasan kritis, serta keterlibatan komunitas dalam mitigasi konflik terbukti mampu mengurangi risiko kematian satwa liar dan menjaga ruang jelajah spesies kunci seperti gajah, beruang, harimau serta kera. Keberhasilan perlindungan satwa dan habitatnya di Asia sangat bergantung pada kolaborasi lintas-sektor, tata kelola berbasis bukti, dan komitmen jangka panjang dari para pemangku kepentingan untuk menjaga bentang alam-bentang alam yang penting bagi kehidupan satwa liar.


Kunjungan ke Wildlife Friends Foundation Thailand (WFFT)
Konferensi ditutup dengan sambutan penutup dari pimpinan WARN dan kunjungan pasca-acara ke pusat penyelamatan Wildlife Friends Foundation Thailand (WFFT), WFFT berdiri sejak tahun 2001 berdiri melawan eksploitasi, perburuan, dan industri wisata satwa yang tidak etis. Berawal dari komitmen Edwin Wiek dan dukungan komunitas lokal Phetchaburi, WFFT kini tumbuh menjadi salah satu suaka satwa terbesar di Asia Tenggara, rumah aman bagi lebih dari 800 ekor satwa di atas lahan hutan seluas 200 acre atau kurang lebih 81 hektar.
Di sinilah puluhan spesies, dari gajah, harimau, hingga lebih dari 300 primata, mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup. Melalui rumah sakit satwa liar yang tersedia di lokasi, WFFT menyelamatkan, merawat, dan merehabilitasi satwa-satwa yang terluka atau diperdagangkan, serta memberikan rumah permanen bagi mereka yang tidak bisa kembali ke alam.

Seluruh pekerjaan monumental ini berjalan berkat kemurahan hati para pendukung dan donor serta putaran ekonomi dari ekowisata yang dilakukan disana. Selain penyelamatan, WFFT juga giat mengedukasi masyarakat, menentang praktik wisata satwa yang kejam, dan mengadvokasi perlindungan satwa liar. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh WFFT dapat menjadi contoh yang baik bagi upaya kita memastikan satwa kita bebas dari eksploitasi, hari ini dan di masa depan. Hal ini juga menjadi diskusi hangat selama konferensi untuk memastikan bahwa satwa-satwa yang berhasil diselamatkan memiliki kesempatan kedua untuk hidup sejahtera di habitat alam aslinya.

Geopix Bergabung dalam Jejaring WARN
Baru-baru ini, Geopix juga telah menyatakan sebagai bagian dari jejaring WARN. Semoga dengan bergabungnya Geopix dalam jejaring tersebut akan menjadi langkah strategis untuk menggalang kolaborasi lintas negara dan lintas lembaga dalam mengatasi kejahatan satwa liar dan perlindungan habitatnya secara global.
WARN Asia Conference 2025 membawa sebuah renungan penutup bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki sumber daya yang kaya, kapasitas manusia yang mumpuni dan niat yang tulus untuk menyelamatkan bumi kita ini. Dan kita bersama bisa mewujudkan bumi yang lestari melalui langkah kecil dan mungkin tidak mudah yaitu memulai dari diri sendiri untuk selanjutnya melepaskan ego dan membangun strategi bersama.

Tentang Penulis
Penulis adalah Co-Director sekaligus Senior Wildlife Campaigner di Geopix
==== ENGLISH VERSION====
Building Networks and a Spirit of Collaboration in Hua Hin
By: Annisa Rahmawati
It was an honor for Geopix to be invited and to participate in the WARN Asia Conference 2025.
This year, the conference was held in Hua Hin, Thailand, bringing together nearly 100 participants and 47 organizations from 20 countries—making it the largest gathering in the network’s history.
The Wildlife Animal Rescue Network (WARN) is a regional coalition focused on strengthening the capacity of wildlife rescue centers, improving conservation education, and promoting minimum care standards. The three-day event was filled with learning, collaboration, and knowledge exchange among activists, field practitioners, wildlife experts, and conservation professionals from NGOs and government agencies across Asia.
I represented GEOPIX at this conference with a mission to strengthen regional collaboration on wildlife protection, deepen technical knowledge on rescue and rehabilitation, enhance investigative capacity to address illegal wildlife trade, and enrich communication strategies for more impactful conservation campaigns. From Indonesia, colleagues from the Center for Orangutan Protection (COP), Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Asia for Animal Coalition (Afa), Aspinall Foundation, and the Sumatera Orangutan Conservation Program (SOCP) were also present.
The conference opened with remarks from WARN Asia Executive Board member Edwin Wiek and representatives of Thailand’s Department of National Parks, Wildlife and Plant Conservation (DNP). This was followed by a marathon of participant presentations covering a wide range of wildlife issues—from rescue techniques, rehabilitation, and disease management to human–wildlife conflict, wildlife management, and strengthening regional networks. Equally fascinating were discussions on lifelong care for non-releasable animals, the issue of lion ownership, and strategies to reduce wild meat consumption.
Sessions on law enforcement and habitat protection at WARN Asia 2025 provided important lessons for conservation organizations across the region. Case studies from Malaysia, Thailand, Indonesia, and other countries revealed that cross-border and cross-agency collaboration involving NGOs, police, customs, prosecutors, and wildlife authorities is key to combating illegal wildlife trade.
Trends such as wildlife crime convergence, the shift of illegal trade to online platforms, and the rising need for forensic documentation and evidence management show that investigative approaches must become increasingly professional. These insights are highly relevant for Geopix as we work to strengthen investigative support and legal advocacy on wildlife crime in Indonesia.
I also had the opportunity to present a session titled “Bukit Tigapuluh Ecosystem Broken Corridors: A Threat to the Protection of Sumatra Elephants.”
My presentation highlighted the crisis facing the Sumatran elephant population in the Bukit Tigapuluh landscape, threatened by electric fences and massive encroachment. I called for moral support from WARN participants and encouraged them to sign our petition urging Michelin to take immediate action to protect the remaining Sumatran elephants.
Habitat Protection Challenges Across Asia
Experiences from Vietnam, Taiwan, Mongolia, Sabah, Thailand, and Indonesia show how habitat fragmentation caused by encroachment and dangerous infrastructure—such as non-standard electric fences—drives escalating human–wildlife conflict.
Data-driven approaches like mapping wildlife corridors, restoring critical areas, and involving communities in conflict mitigation have proven effective in reducing wildlife mortality and ensuring roaming space for key species like elephants, bears, and macaques.
The success of wildlife and habitat protection in Asia depends on cross-sector collaboration, evidence-based governance, and long-term commitment from all stakeholders to safeguard what remains of our landscapes.
Visit to Wildlife Friends Foundation Thailand (WFFT)
The conference concluded with closing remarks from WARN leadership and a post-event excursion to the Wildlife Friends Foundation Thailand. Established in 2001, WFFT has stood against exploitation, poaching, and unethical wildlife tourism. Founded by Edwin Wiek with support from the local community of Phetchaburi, it has grown into one of Southeast Asia’s largest wildlife sanctuaries—providing a safe haven for over 800 animals across a 200-acre forest area.
Here, dozens of species—from elephants and tigers to more than 300 primates—receive a second chance at life. Through its on-site wildlife hospital, WFFT rescues, treats, and rehabilitates injured or trafficked animals and provides permanent sanctuary for those unable to return to the wild.
Despite receiving no government support, this monumental work continues thanks to donors and the revenue generated from ethical ecotourism. WFFT is also active in public education, challenging cruel wildlife tourism practices, and advocating for stronger wildlife protection.
Their work is a powerful example of what it takes to ensure animals live free from exploitation—now and in the future. It was also a major topic of discussion throughout the conference, emphasizing that rescued animals must have a second chance at a dignified life in their natural habitat. Protecting forest landscapes—the upstream solution—remains essential to preventing wildlife crime and restoring balance to our planet.
Geopix Joins WARN
I am also proud and grateful to share that Geopix recently became a member of WARN. This marks a strategic step in building cross-border and cross-institutional collaboration to address wildlife crime and protect forest habitats globally.
As I concluded my journey in Thailand, I reflected deeply on the fact that Indonesia has abundant natural resources, capable human capacity, and sincere intention to protect our planet. We can create a sustainable future through small yet meaningful steps—starting with ourselves, letting go of ego, and building collaborative strategies together.
About the Author
The author is the Co-Director and Senior Wildlife Campaigner at Geopix.



