[PRESS RELEASE] Bayi Gajah Liar di Bentang Alam Bukit Tigapuluh
Unduh di sini:
[PRESS RELEASE] Bayi Gajah Liar di Bentang Alam Bukit Tigapuluh
Jambi, 28 November 2025. Saat kita semua masih terguncang oleh kabar kematian beruntun bayi-bayi gajah Tari, Panton dan Nurlaila (Lela) serta 2 (dua) ekor gajah betina yaitu Suli dan Dona di berbagai Pusat Konservasi Gajah, Geopix merilis temuan penting yang memberikan secercah harapan, kami bertemu dengan bayi gajah liar bersama kelompoknya, total sekitar lima ekor di Bentang Alam Bukit Tigapuluh, salah satu kantong populasi penting bagi Gajah Sumatera.
Keberadaan bayi gajah liar ini makin meyakinkan kepada kita bahwa populasi gajah di Bukit Tigapuluh masih mampu beregenerasi secara alami. Namun temuan ini sekaligus membuka fakta lapangan yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Tim lapangan Geopix mendokumentasikan satu (satu) bayi gajah liar bersama 4 (empat) ekor gajah dewasa, bergerak dalam satu kelompok di wilayah areal penggunaan lain (APL) membentuk formasi waspada untuk melindungi bayi gajah tersebut,sebuah kelompok yang relatif kecil dan rentan. Mereka terlihat berada di tepian tambang batubara yang terbengkalai dan tidak terlihat pergerakan ke lokasi lainnya. Selain itu juga teramati aktivitas pembersihan lahan untuk membuka perkebunan sawit.
Seperti kantong-kantong populasi gajah lainnya di seluruh Sumatera, kondisi Bentang Alam Bukit Tigapuluh cukup memprihatinkan, habitat-habitat terbaik gajah tersebut telah terfragmentasi oleh perambahan yang sangat masif, pemberian izin tambang, perkebunan sawit dan kegiatan -kegiatan perhutanan sosial yang belum terbina dengan baik yang masih berlangsung di wilayah perlintasan/koridor bagi gajah, Kondisi tersebut semakin diperburuk dengan pemasangan pagar-pagar listrik tak standar yang sangat membahayakan dan juga mematikan tidak hanya bagi gajah tetapi juga masyarakat itu sendiri.
Fragmentasi habitat ini membuat gajah kehilangan habitat aman dan terpaksa menjelajah di areal yang tidak sesuai . Ditemukan jejak alat berat, jalan logging, dan pembukaan lahan baru tidak jauh dari lokasi penemuan tersebut . Fragmentasi ini mengancam koridor jelajah bagi induk dan bayi gajah beserta kelompoknya , serta mengganggu perilaku alami kelompok gajah tersebut.
Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix, menyatakan:
“Penampakan bayi gajah liar bersama kelompoknya di Bentang Alam Bukit Tigapuluh adalah harapan di tengah situasi yang sangat genting bagi Gajah Sumatera”
Untuk itu Geopix mendesak kepada pihak terkait agar .melakukan:
- Pembongkaran pagar-pagar listrik di areal konservasi satwa liar (WCA) PT LAJ/ PT RLU/ Michelin Group yang menjadi koridor gajah di Bentang Alam Bukit Tigapuluh
- Moratorium pemberian izin baru di dalam koridor gajah di Bentang Alam Bukit Tigapuluh.
- Penegakan hukum tegas terhadap pembukaan perkebunan liar dan perambahan hutan.
- Restorasi koridor jelajah gajah untuk memastikan perlindungan habitat jangka panjang .
- Aksi konservasi gajah di seluruh lanskap Sumatera yang menyeluruh dan terpadu.
“Ini adalah cercah harapan, bahwa alam masih berjuang memberi kesempatan. Namun kesempatan ini sangat rentan dan terlalu berharga untuk disia-siakan. Tanpa perlindungan habitat secara utuh yang nyata dan tegas, harapan kecil ini bisa hilang dan tidak akan kembali lagi” pungkas Annisa.
Jika Indonesia ingin Gajah Sumatra tetap ada, maka habitatnya harus segera dilindungi secara keseluruhan sebelum semuanya terlambat.
Tentang Geopix
Geopix bekerja menyajikan gambaran terkini mengenai manusia dan lingkungan serta mendorong perlindungan satwa liar, habitat kritis, dan keadilan ekologis di Indonesia.
Geopix adalah anggota dari Wildlife Animal Rescue Network (WARN), organisasi koalisi regional yang berfokus pada penguatan kapasitas pusat penyelamatan satwa liar, peningkatan edukasi konservasi, penerapan standar minimum perawatan bagi satwa liar serta mendorong kolaborasi dalam mengatasi kejahatan satwa liar lintas negara.
Narahubung:
Annisa@geopix.id
LAMPIRAN

______ English Version ______
Wild Baby Elephant in the Bukit Tigapuluh Ecosystem
Jambi, 28 November 2025. While we are still shaken by the recent consecutive deaths of baby elephants like Tari, Panton, and Nurlaila (Lela) along with two adult female elephants, Suli and Dona, in various Elephant Conservation Centers, Geopix releases an important finding that offers a glimmer of hope: we encountered a wild baby elephant together with its herd, a total of approximately five individuals in the Bukit Tigapuluh Landscape, one of the most crucial population pockets for the Sumatran Elephant.
The presence of this wild baby elephant strengthens the evidence that the elephant population in Bukit Tigapuluh is still able to regenerate naturally. However, this discovery also reveals far more alarming realities in the field.
The Geopix field team documented one wild baby elephant accompanied by four adult elephants moving as a group within the area designated for other land uses (APL), forming an alert formation to protect the calf, a relatively small and vulnerable group. They were observed at the edge of an abandoned coal mining site, with no signs of movement to other areas. The team also observed ongoing land clearing activities for new oil palm plantations.
As with other elephant population pockets across Sumatra, conditions in the Bukit Tigapuluh Landscape are deeply concerning. The elephants’ prime habitats have been fragmented by massive encroachment, mining permits, oil palm plantations, and poorly managed social forestry initiatives occurring within elephant migration corridors. These threats are further compounded by the installation of non-standard electric fences, which are extremely dangerous and lethal, not only to elephants but also to local communities.
This habitat fragmentation forces elephants to leave safe areas and wander into unsuitable territories. Heavy machinery tracks, logging roads, and newly opened land were found not far from the recorded sighting. Such fragmentation threatens the natural movement corridors of the mother elephant, the calf, and the herd, disrupting their natural behavioral patterns.
Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner at Geopix, stated:
“The sighting of a wild baby elephant with its herd in the Bukit Tigapuluh Landscape is a beacon of hope amid an extremely critical situation for the Sumatran Elephant.”
Therefore, Geopix urges relevant stakeholders to:
- Dismantle electric fences within the Wildlife Conservation Area (WCA) of PT LAJ / PT RLU / Michelin Group, which forms part of the elephant corridor in the Bukit Tigapuluh Landscape.
- Implement a moratorium on new permits within the elephant corridor of Bukit Tigapuluh.
- Enforce strict legal action against illegal plantation development and forest encroachment.
- Restore elephant migration corridors to ensure long-term habitat protection.
- Implement comprehensive and integrated elephant conservation measures across the Sumatran landscape.
“This is a ray of hope, a sign that nature is still fighting to give us a chance. But this chance is fragile and far too precious to waste. Without real, holistic, and decisive habitat protection, this tiny hope may disappear and once lost, it may never return,” Annisa concluded.
If Indonesia wants Sumatran Elephants to survive, then their habitat must be protected in its entirety before it is too late.
About Geopix
Geopix provides current insights on people and the environment while promoting wildlife protection, the preservation of critical habitats, and ecological justice in Indonesia.
Geopix is a member of the Wildlife Animal Rescue Network (WARN), a regional coalition focused on strengthening the capacity of wildlife rescue centers, enhancing conservation education, implementing minimum care standards for wildlife, and fostering cross-border collaboration to combat wildlife crime.
Media Contact:
Annisa@geopix.id




