Bentang AlamEnvironmentSeni Budaya
Trending

Air dan Spiritualitas: Rahasia Lingga-Yoni di Sumber Gentong Malang

Penulis: Annisa Rahmawati

Begitu masuk ke wilayah wisata lokal ini, suasana sejuk dan adem sangat terasa, mampu meredam suara keramaian dan kebisingan lalu lintas di perbatasan kota Malang ini.

Siang yang tidak terlalu terik, di bawah angin sepoi dan rimbunan beringin, saya berkesempatan ngobrol dengan mas Rudi. Beliau adalah salah seorang warga yang kesehariannya beraktivitas di Sumber Gentong. Mas Rudi termasuk sosok muda kelahiran 1992 yang sangat peduli terhadap keberlangsungan nilai spiritual Sumber Gentong ini. Selain rasa sejuk dan adem, saya juga merasakan energi yang damai dan tenang mengalir di seluruh pembuluh darah tubuh saya saat berada disini

Sambil berjalan menyusuri tepian sumber menuju zona ‘suci’, mas Rudi pun bercerita tentang sejarah bagaimana wisata Sumber Genting ini bermula.   

Foto: Beringin di zona suci

Sumber Gentong berlokasi tepatnya di Dusun Gentong, Desa Tirtomoyo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Terletak tidak terlalu jauh dari terminal bus Arjosari Malang, kawasan ini tidak hanya dikenal sebagai sumber air penting bagi masyarakat sekitar dan wisata, tetapi juga menyimpan jejak sejarah yang berkaitan dengan peradaban masa lampau. 

Penamaan “Sumber Gentong” sendiri berasal dari cerita lokal yang berkembang di masyarakat, di mana mata air ini diyakini muncul dari batu cadas alami yang berbentuk menyerupai gentong (wadah air). Selain itu, sumber air ini juga kerap dianggap sebagai sumber yang sakral dan memiliki nilai spiritual tertentu. Oleh karena itu, keberadaan Sumber Gentong tidak hanya dilihat dari fungsi ekologisnya, tetapi juga memiliki makna budaya dan kepercayaan yang melekat di tengah masyarakat.

Salah satu temuan utama adalah Lingga-Yoni, yang ditemukan dalam kondisi tidak utuh karena telah mengalami kehancuran ditelan waktu. Awalnya, hanya ditemukan dua bagian, namun seiring upaya pencarian, bagian lain termasuk batangnya yang terbuat dari bata merah kuno berhasil ditemukan. Artefak ini kini diamankan di rumah mantan Kepala Desa Tirtomulyo. Dengan ukuran sekitar 40 cm, Lingga-Yoni tersebut diperkirakan berasal dari era Kerajaan Mataram Kuno, bahkan sebelum masa Kerajaan Singosari.

Foto: Lingga-Yoni di zona suci

Selain Lingga-Yoni, terdapat pula peninggalan lain seperti arca Gabesha dan tumpukan bata merah kuno. Namun, sebagian besar dari material tersebut telah digunakan kembali oleh warga sebagai bahan bangunan rumah. Hal ini memunculkan dugaan bahwa kawasan Sumber Gentong dulunya merupakan lokasi yang sangat penting. Kemungkinan besar adalah sebuah kompleks candi. Dugaan ini diperkuat dengan keberadaan kawasan Bangliawan, punden, serta sisa-sisa peradaban lainnya di sekitar lokasi.

Secara filosofis Jawa kuno, Lingga-Yoni memiliki makna yang sangat dalam. Yoni melambangkan Ibu Bumi, sementara lingga melambangkan Bapak Angkasa. Keduanya adalah representasi dari Dewi Parwati dan Dewa Siwa dalam tradisi Hindu. Namun, penting dipahami bahwa benda ini bukanlah objek yang disembah, melainkan simbol yang digunakan sebagai media penghubung untuk mengingat dan menghormati leluhur serta sebagai sarana mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tradisi lokal juga menunjukkan adanya praktik penghormatan terhadap alam, seperti pemberian sesajen bunga dan dedaunan basah sebagai bagian dari doa. Hal ini mencerminkan hubungan spiritual manusia dengan alam, di mana unsur-unsur seperti batu, pohon beringin, dan khususnya sumber air, dipercaya memiliki energi semesta alami. Pohon beringin, juga sering dianggap sakral karena sifatnya yang menaungi dan melambangkan perlindungan. Dalam konteks sains sendiri, perakaran pohon yang baik memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan sumber air di Sumber Gentong. Struktur akar membantu tanah menjadi lebih gembur sehingga air hujan lebih mudah meresap ke dalam tanah dan tersimpan sebagai cadangan air tanah. Selain itu, akar juga berfungsi sebagai penyaring alami yang membantu menjaga kualitas air tetap bersih. Di sisi lain, akar yang menjalar kuat mampu mengikat tanah dan mencegah erosi, sehingga kawasan sekitar sumber air tetap stabil dan lestari. Karena itu, pohon-pohon besar seperti beringin tidak hanya memberi keteduhan, tetapi juga menjadi penjaga kehidupan bagi ekosistem air di sekitarnya.

Berangkat dari simbolik rasa syukur tersebut, muncul kesadaran kolektif untuk menjaga dan melestarikan alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat. Alam tidak lagi dipandang sekadar sebagai sumber daya, melainkan sebagai ruang hidup yang harus dirawat dan dihormati. Praktik-praktik sederhana seperti menjaga kebersihan sumber air, tidak merusak pepohonan, serta merawat lingkungan sekitar menjadi wujud nyata dari nilai-nilai tersebut. Dengan demikian, pelestarian alam tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga memiliki dimensi moral dan spiritual yang memperkuat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Foto: Cadangan Sumber air bersih di Sumber Gentong

Namun demikian, ketika kawasan ini berkembang menjadi destinasi wisata yang masif, muncul tantangan baru dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian. Sumber air pada dasarnya merupakan bagian penting ekosistem yang rentan terhadap pencemaran dan kerusakan. Aktivitas wisata seperti mandi, penggunaan sabun, pembuangan sampah, serta meningkatnya jumlah pengunjung berpotensi mengganggu kualitas dan keberlanjutan air. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan yang bijak, seperti penetapan zona inti dan ‘suci’ yang tidak boleh disentuh langsung, pembatasan aktivitas di area sumber, serta edukasi kepada pengunjung mengenai pentingnya menjaga ekosistem air.

Lebih jauh, sikap yang perlu diambil bukanlah menolak keberadaan wisata secara keseluruhan, melainkan mengarah pada konsep wisata berbasis konservasi. Dengan pendekatan ini, Sumber Gentong dapat tetap dimanfaatkan sebagai ruang edukasi dan budaya tanpa mengorbankan fungsi ekologisnya. Kesadaran masyarakat dan pengunjung menjadi kunci utama, karena menjaga ekosistem air berarti menjaga keberlangsungan kehidupan itu sendiri. Jika ekosistem ini terganggu, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh masyarakat yang bergantung pada sumber air tersebut. Selain itu perlindungan wilayah ini oleh Pemda menjadi krusial sehingga salah satu sumber air bersih dilindungi dari pembangunan infrastruktur yang masif.

Melihat potensi ekologis, sejarah dan nilai budaya yang terkandung, Sumber Gentong tidak hanya penting sebagai sumber kehidupan melalui sumber airnya, tetapi juga sebagai situs yang menyimpan warisan peradaban. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk menjaga, melindungi, dan mengkaji lebih lanjut kawasan ini agar tidak kehilangan jejak sejarah yang berharga.

Semoga Sumber Gentong tetap lestari, tidak seperti sumber-sumber air penopang kehidupan di wilayah lain yang rusak lalu menghilang tanpa jejak. Semoga seluruh mahluk berbahagia.



Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button