AnimalBentang AlamSatwa Liar
Trending

Catatan Perjalanan Menelusuri Jejak Gajah Liar di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh

Penulis: Arianto (Ari Gajah)

Ini adalah catatan perjalanan saya bulan April lalu. Perjalanan kali ini, adalah sesuatu yang mengesankan, saya diundang oleh Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi. BKSDA merupakan unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Kehutanan, untuk melihat bersama situasi  habitat gajah liar di bentang alam Bukit Tigapuluh, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.

Perjalanan saya dimulai sore hari pukul 15.00 WIB. Bersama Tim  BKSDA Jambi yang tertarik dengan konten-konten saya tentang Gajah Sumatera Perjalanan kami tempuh menggunakan mobil melewati jalan koridor milik PT Wira Karya Sakti  (WKS)  milik Sinarmas Group.

Setelah menempuh perjalanan 30 menit dari Pos Kembar perusahaan PT. WKS, tibalah kami di jalanan perkebunan eucalyptus. Mobil kami mulai berjalan agak lambat ketika menelusuri jalan ini. Setelah sekitar  perjalanan sejauh satu kilometer ke dalam, saya dan Tim BKSDA menjumpai di sepanjang jalan kotoran kelompok gajah liar yang masih segar, dengan volume kotoran yang cukup banyak. Inilah penampakan kotoran gajah liar tersebut.

Lalu mobil kami melaju  lagi sambil memantau kondisi di sekitar perjalanan. Di kanan-kiri perkebunan, saya melihat jejak-jejak kelompok gajah liar berupa telapak kaki gajah, rumput-rumput yang terinjak, dan pohon eucalyptus yang tumbang.

Dan di dalam perjalanan ini kami juga menyaksikan camp karyawan yang roboh, dirobohkan oleh kelompok gajah liar karena camp karyawan ini persis berdiri di koridor jelajah mereka. Setelah kami mendokumentasikan camp ini, perjalanan dilanjutkan di menuju area sungai kecil karena kata salah satu Tim BKSDA, biasanya pada sore hari gajah liar muda dijumpai di sungai tersebut. Ternyata kami dan tim kurang beruntung karena belum  berjumpa gajah liar, yang ada hanya menjumpai kotoran gajah lagi, dan kebetulan air sungai tersebut sangat jernih dan deras.

Setelah dari sungai tersebut, kami melanjutkan ke area pakan gajah liar. Setiba di area pakan gajah liar, ternyata tanaman pakan liar hanya sedikit dan pertumbuhannya tidak menggembirakan, alias kurang terawat dan tidak subur. Kami berhenti sejenak di areal pakan gajah liar sekitar 15 menitan sambil berdiskusi tentang situasi di area ini.

Keindahan Bukit Tigapuluh dan Cerita Koridor yang Terputus

Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke puncak bukit yang cukup tinggi di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh yang viewnya berhadapan langsung dengan rangkaian perbukitan di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, sambil berdiskusi tentang habitat Gajah liar. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit dengan medan jalan yang cukup ekstrim dan menantang, sampailah kami di puncak bukit. Ketika sampai di puncak bukit, dan wow… saya setengah berteriak saking takjubnya dengan pemandangan  hutan lembah dan bukit-bukit nan indah yang kami lihat disana disana. Ketika saya sedang memandang alam yang indah itu, Tim BKSDA memanggil saya supaya mendekat.

Bapak dari Tim BKSDA menjelaskan bahwa lembah yang kami lihat itu hampir menjadi tempat ekowisata gajah, tetapi pihak PT. WKS tidak mau menyerahkan tanah itu, dan sekarang tanah tersebut dirambah oleh masyarakat untuk perkebunan ilegal kelapa sawit. Andaikan PT. WKS dulu mau menyerahkan tanah di lembah itu untuk dijadikan ekowisata gajah, pasti hutan di lembah itu kembali pulih dan terhubung dengan Bukit Tigapuluh, serta nama PT. WKS menjadi harum. Padahal tanah yang diminta hanya 10 hektar, dan sekarang tanah WKS yang diserobot oleh perambah sampai puluhan lebih dari 10 hektar. Andaikan tempat ini dilindungi, bukan tidak mungkin, kita bisa melihat gajah liar dari puncak bukit ini.

Lalu Bapak dari Tim BKSDA melanjutkan penjelasannya bahwa daerah ini merupakan titik poin jalur perlintasan gajah liar di bentang alam Bukit Tigapuluh. Lalu tim BKSDA mengeluarkan sebuah arsip tentang pergerakan gajah liar dari berbagai kelompok gajah. Dari tahun ke tahun, pergerakan gajah liar banyak mengalami rintangan sehingga banyak kelompok gajah, ruang geraknya tidak bebas dan menjadi terputus.

Setelah melihat arsip data dan titik koordinat kami berada, kami melanjutkan perjalanan  ke Pusat Informasi Konservasi Gajah (PIKG). Dari puncak bukit ke PIKG Muara Sekalo, perjalanan kami tempuh kurang lebih 2 jam, dan kami sampai di PIKG Muara Sekalo pas saat magrib. Setelah sampai di PIKG, kami melaksanakan briefing kecil dan memutuskan malam ini kami beristirahat di guest house PIKG, dan perjalanan melihat gajah liar dilanjutkan pada besok paginya, tanggal 23 April 2026, dengan tambahan 3 anggota. Setelah briefing, kami pergi mandi, kemudian makan, dan beristirahat di guest house masing-masing.

Menyaksikan Ancaman: Tambang, Sawit, dan Pagar Listrik

Keesokan harinya, pada pagi pukul 08.00 WIB, tanggal 23 April 2026, setelah sarapan pagi dan briefing kegiatan, perjalanan melihat gajah liar kami lanjutkan kembali. Kali ini perjalanan menggunakan dua mobil, satu mobil dari pihak BKSDA Jambi dan satu mobil dari pihak FZS Indonesia yang dikemudikan oleh Bapak dari  PIKG, kami pergi ke area konsesi PT Tebo Agro Lestari alias PT TAL.

Sepanjang perjalanan menuju PT TAL, kanan kiri jalan adalah lahan perkebunan milik masyarakat Desa Muara Sekalo dan sekitarnya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, sampailah kami di lokasi titik point pemantauan gajah liar. Lagi-lagi saya dan tim belum berkesempatan melihat gajah yang sedang merumput; yang kami jumpai hanya kotoran gajah liar lagi, duh! sudah nasib saya mungkin hehe Tak pantang arah, kami melanjutkan perjalanan lagi dan tibalah di area konsesi PT TAL. Di sepanjang perkebunan itu, saya melihat secara langsung pagar listrik yang berada di kanan kiri jalan yang membelah perkebunan masyarakat  itu.

Selain menyaksikan pagar listrik, saya juga melihat secara langsung galian bekas tambang batu bara yang sudah berbentuk danau dan tidak direklamasi dikembalikan ke kondisi seperti semula. Di kawasan tambang itu, salah satu dari tim mobil kami terjebak lumpur di jalan, untungnya bisa diatasi. Nah, di lokasi tambang ini dulunya merupakan jalur koridor gajah liar, tetapi sayang, sungguh beribu sayang, koridor ini dirusak akibat tambang batu bara.

Dari lokasi bekas tambang itu, perjalanan dilanjutkan kembali. Di sepanjang perjalanan, saya menyaksikan hutan-hutan yang beralih fungsi menjadi konsesi perusahaan  perkebunan kelapa sawit, bahkan kelapa sawitnya baru saja ditanam. Tidak berapa lama, tibalah kami di salah satu lahan bekas konsesi yang terbengkalai dengan luas mencapai sekitar 10 hektar. Ternyata lahan ini adalah jalur koridor gajah liar. Lokasi tanahnya lumayan landai dan ditumbuhi tanaman merambat yang cukup lebat dan hijau. Di ujung lahan itu terdapat hutan yang cukup lebat, tetapi sayangnya hutan itu masuk area konsesi dan tinggal menunggu waktu menjadi area perkebunan kelapa sawit. Sedihnya!

Lagi-lagi kami beserta tim tidak berjumpa gajah liar, tapi hanya menjumpai bekas jejak saat gajah mandi di sungai kecil ini dan kotoran gajah liar. Lalu Tim BKSDA mengadakan briefing kecil lagi di area ini sambil membuka arsip. Di dalam arsip ini disebutkan bahwa ini adalah area konsesi dan pergerakan gajah liar di area ini lumayan tinggi karena didukung oleh sumber pangan yang cukup banyak dan lokasi yang tidak curam, karena gajah sangat menyukai lokasi yang cukup landai.

Wildlife Conservation Area, Harapan Konservasi

Dari area konsesi terbengkalai ini, perjalanan kami dilanjutkan kembali ke area konsesi PT Lestari Alam Jaya/RLU milik Michelin Group. Di dalam perjalanan, saya melewati lokasi bekas tambang batu bara yang cukup luas dan tidak direklamasi. Area bekas tambang ini sangat membahayakan pergerakan gajah liar dan hewan lainnya. Setelah dari lokasi tambang ini, kami memasuki area konsesi perusahaan kelapa sawit, dan di kanan kiri jalan yang membelah perkebunan itu, wilayah batas kebun dengan jalan berdirilah pagar listrik kejut yang panjangnya berkilo meter.

Setelah dari area konsesi itu, kami memasuki kawasan hutan yang menjadi area perlintasan gajah liar. Setelah menempuh waktu sekitar 20 menit, sampailah kami di areal PT LAJ, sebuah perusahaan perkebunan karet yang luasnya mencapai puluhan ribu hektar milik Michelin, Group yang berkantor pusat di Perancis. Sepanjang perjalanan ke titik point gajah liar, saya perhatikan tanaman karetnya ditanam sangat terawat dan jalan perkebunannya lumayan bagus, serta jalan perkebunan ini menembus jalan koridor yang menghubungkan ke jaringan jalan nasional lintas Sumatera.

Di tengah perjalanan, kami berjumpa dengan petugas lapangan Frankfurt Zoological Society (FZS) Indonesia yang sedang monitoring gajah liar. Info dari tim FZS Indonesia, lokasi ini ada pergerakan gajah liar berdasarkan data dari satelit GPS. Mereka mengajak saya dan tim ikut.. Dengan semangat, tim kami menuju titik poin yang dimaksud, dan benar adanya pergerakan gajah liar yang ditandai dengan adanya camp karyawan yang roboh, kotoran gajah liar yang masih baru, jejak kaki, kulit pohon karet yang terkelupas, dan pohon karet yang roboh. Dari kejauhan, kami mendengar suara gajah yang sedang berkomunikasi.

Lalu salah satu tim dari BKSDA mengeluarkan seperangkat alat drone untuk memantau pergerakan dari udara. Ketika dipantau dari udara, ternyata gajah liarnya tidak nampak karena pergerakan gajah liar tertutupi kanopi pohon yang cukup lebat di bawah lembah perkebunan karet. Karena drone sudah terbang dua kali dan hasilnya nihil, diputuskan agar kami mendekati area itu. Setelah naik turun bukit, sampailah kami di titik terdekat dari atas bukit, dan suara gajah liar yang sedang makan terdengar semakin  nyaring. Sayangnya, saat gajah sedang makan kami tidak bisa melihat mereka, karena jarak pandang terhalang oleh lebatnya semak-semak di lembah itu. Setelah mendokumentasikan lokasi itu, perjalanan dilanjutkan ke area Wildlife Conservation Area PT LAJ.

Setelah berpamitan dengan petugas lapangan FZS Indonesia, kami melanjutkan perjalanan  kembali menuju area WCA yang ditempuh dalam tempo waktu satu jam lebih. Di sepanjang perjalanan, pemandangan yang saya lihat cuma hamparan perkebunan karet, kebun  kelapa sawit, sungai-sungai kecil, perbukitan, pemukiman penduduk, serta sekolah swadaya yang dibangun oleh masyarakat.

Saat perjalanan menuju WCA, banyak anak sungai yang airnya meluap, yang berhulu di Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Lalu, Bapak dari tim BKSDA bercerita, kalau Pemerintah pusat dan Pemerintah Daerah tidak serius menangani masalah WCA ini, maka akan menjadi konflik Tesso Nilo versi Jambi, bahkan lebih memanas. Karena apa? Area seluas 10.000 hektar yang diperuntukkan untuk satwa liar seperti gajah telah menjadi pemukiman penduduk ilegal dan perkebunan kelapa sawit. Lucunya lagi, area pemukiman di WCA telah berdiri jaringan kabel listrik milik PLN. Sedih lagi saya!

Akhirnya, saya dan tim memasuki area WCA. Di sepanjang area WCA ini memang telah banyak berdiri pemukiman penduduk beserta fasilitas pendukung seperti sekolah, rumah ibadah, fasilitas kesehatan, serta pasar tradisional. Saya juga bingung kenapa ada banyak perambahan di areal WCA ini, padahal wilayah ini kan wilayah kawasan hutan yang berdekatan dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

Setelah observasi di sepanjang koridor WCA, kami melanjutkan perjalanan masuk ke dalam area WCA yang berbatasan dengan Bukit Tigapuluh. Di dalam perjalanan, saya menyaksikan banyak perkebunan kelapa sawit, karet, serta kopi masyarakat Yang bikin mata saya terbelalak dan berucap, saya melihat perkebunan yang baru dibuka dengan luas tanah sekitar tiga hektar, Itu luas banget! Dari bukaan kebun itu, kami bisa memandangi Bukit Tigapuluh secara langsung tanpa hambatan. Tiba-tiba, Bapak dari Tim BKSDA berucap, “Nanti kita mampir ke sini.” “Oke, Pak,” saya jawab.

Mobil kami berhenti di salah satu titik point pemantauan gajah liar yang berdekatan langsung dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Tapi sayangnya, titik point di area ini sudah diblokade oleh pagar listrik, sehingga mobil tim kami tidak bisa melaju lebih ke dalam lagi untuk cek lokasi lain. Diputuskan perjalanan ini dilanjutkan untuk mengecek lahan baru yang dibuka itu.

Akhirnya, tibalah kami di lokasi lahan baru itu dan disambut oleh pemiliknya. Setelah basa-basi, saya izin mengambil video di kebun ibu itu karena saya tertarik dengan view kebun yang menghadap ke Bukit Tigapuluh. View yang saya lihat benar-benar indah dan sangat menakjubkan. Tapi sayangnya, lahan datar sebagus ini yang seharusnya menjadi rumah gajah malah dirambah oleh kepentingan oknum perambah.

Setelah ambil video dan foto di lahan itu, saya menghampiri ibu tersebut. Ibu itu bercerita kalau dia membeli lahan ini seharga 20 juta per hektar dari salah satu masyarakat di area WCA tersebut. Ketika asyik bercerita, mata saya tertuju pada gulungan kabel listrik yang belum dipasang. Mumpung ada kesempatan, saya dokumentasikan, dan kata ibu itu, kabel tersebut untuk pagar biasa biar aman. Aman bagaimana? Bayangkan pagar itulah yang bisa bikin gajah mati.

Setelah dari tempat ibu itu, perjalanan dilanjutkan lagi ke areal PT LAJ, karena di dalamnya juga banyak terdapat titik point gajah liar. Titik point gajah liar yang akan kami lihat adalah area pakan gajah yang luasnya sekitar 10 hektar lebih. Setelah menempuh perjalanan satu jam lebih dengan rute jalan yang naik turun bukit dan melintasi hamparan perkebunan karet PT LAJ, sampailah kami di lokasi tersebut. Lokasi ini memang betul-betul bagus dan terawat. Tanaman pakan gajahnya tumbuh subur dan tidak diganggu masyarakat. Tapi sayangnya, di titik point ini kami belum berkesempatan jumpa gajah liar lagi, yang ada cuma jumpa bekas telapak kaki dan kotorannya lagi.

Pertemuan dengan Gajah di PIKG

Tim kemudian memutuskan untuk kembali pulang ke kampung di sekitar PIKG untuk mengecek lokasi lahan baru untuk pakan gajah di PIKG. Di areal ini pun kami melihat titik poin pakan gajah. Di dalam perjalanan pulang, saya menyaksikan banyak jejak gajah liar di rimbunan pohon karet yang bikin saya tersenyum lega adalah bahwa areal pakan gajah ini terbebas dari blokade pagar listrik, sehingga gajah-gajah bebas lalu lalang di kawasan yang terhubung langsung dengan Bukit Tigapuluh.

Tepat di jam 5 sore, sampailah kami di camp PIKG, dan mobil tim kami langsung ke area belakang PIKG karena sudah ada tamu menunggu. Ternyata, tamu yang menunggu itu adalah tim konservasi dari LAJ. Setelah basa-basi, kami langsung ke lokasi calon pakan gajah. Ternyata, lokasi calon pakan gajah ini adalah area konservasi PT LAJ yang akan diserahkan ke Pusat Informasi Konservasi Gajah.

Berdasarkan pengamatan saya, lokasi pakan gajah ini lokasinya sangat strategis. Lokasinya cukup datar, pepohonan masih rimbun, dilewati alur Sungai Mandelang, luasnya lumayan luas, dan  tim BKSDA menerbangkan drone untuk memantau dari udara. Berdasarkan pantauan udara dan observasi langsung, lokasi ini sangat memenuhi kriteria. Tapi hambatannya adanya perambahan lahan konservasi LAJ oleh masyarakat, terutama yang berdekatan dengan  sempadan Sungai Mandelang. Untuk masalah perambahan itu, akan dilakukan kerja sama penertiban area konservasi yang dirambah. Inti dari pertemuan di lapangan, pihak LAJ sangat mendukung upaya konservasi gajah dan siap merebut Wildlife Conservation Area  lagi dari tangan masyarakat yang menyerobot lahan tersebut, asalkan didukung tim pemerintah yang solid dan satu tujuan.

Setelah pulang dari lokasi calon pakan gajah, perjalanan ini dilanjutkan pulang ke camp PIKG. Di dalam perjalanan pulang, saya berjumpa gajah Leo yang baru pulang dari hutan beserta mahout-nya serta gajah lainnya. Saya sapa Leo beserta mahout-nya, dan tak lupa gajah yang bareng berjalan dengan Leo saya sapa juga.

Akhirnya, saya sampai di kandang gajah, lalu saya ikut memandikan gajah di tempat pemandian karena di sana juga ada gajah Tiara, gajah Juwita, dan gajah Kalangi yang lagi mandi. Tak lama kemudian, muncullah si gajah Leo serta gajah Rendo ikut mandi bareng di pemandian. Suasana di pemandian sangat ceria, kami bergantian memandikan gajah. Setelah gajah mandi, gajahnya digiring ke area kandang gajah, dan di kandang gajah sudah disediakan makanan untuk para gajah. Selamat makan gajah-gajah jinak ku yang bernama Leo, Rendo, Juwita, Kalangi, dan Tiara.

Gajah Leo

 

Gajah Rendo

 

Gajah Juwita

 

Gajah Kalangi

 

Gajah Tiara

Dari kandang gajah, saya dan tim melanjutkan kembali ke guest house untuk mandi, makan, dan beristirahat setelah seharian observasi di lapangan beserta tim FZS Indonesia untuk memantau secara langsung. Hari ini kami belum berkesempatan untuk bertemu secara tatap muka dengan gajah liar, tapi setidaknya kami bisa mendengar suara gajah yang sedang berkomunikasi di bawah lembah dan melihat jejak gajah di area PT LAJ yang tidak mudah untuk dijangkau.

Sekian cerita dari perjalanan saya, terima kasih kepada  tim BKSDA Jambi dan FZS Indonesia atas kesempatan dan pengalaman berharga ini. Semoga gajah Sumatera di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh ini serta seluruh Gajah Sumatera lainnya dan juga satwa liar lainnya terus lestari sepanjang masa.

Photo credit: @ari_gajah

Tentang Penulis: Arianto atau lebih dikenal sebagai @ari_gajah merupakan content creator yang tinggal di Jambi. Konten-kontennya banyak tentang gajah di berbagai kantong populasi di Sumatera termasuk di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh dan sangat inspiratif untuk mengajak netizen mencintai gajah Sumatera.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button