
Penulis: Ken Hardi
Malang, 4 Oktober 2026. Hari Minggu yang cerah menuntun saya pergi ke sebuah pasar burung dengan membawa kamera saya. Saya pulang dengan ratusan foto tetapi juga membawa pulang satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya: Berapa sebenarnya harga yang harus dibayar alam ketika kita membawa satwa liar ke dalam rumah?
Ketika seseorang memelihara seekor burung, monyet, atau musang, ambisi nya pun makin bertambah. Satu sangkar tidak lagi cukup, maka beli beberapa lagi dengan koleksi burung yang bertambah juga. Ada yang ingin memiliki kandang besar, punya aviary, berbagai jenis satwa, bahkan koleksi yang menyerupai kebun binatang pribadi. Saya bertanya-tanya, dari mana perilaku ini berasal?

Salah satunya mungkin tumbuh dari semakin populernya gaya hidup para figur publik yang memamerkan koleksi satwa eksotis sebagai bagian dari pencitraan, hobi, atau simbol keberhasilan dan kesuksesan. Apa yang ditampilkan oleh orang-orang terkenal sering kali ditiru oleh masyarakat. Perlahan, sesuatu yang semula dianggap aneh ataupun luar biasa dapat berubah menjadi hal yang lumrah dan dianggap normal.
Akan tetapi tidak semua orang tahu bahwa di balik setiap burung cantik yang kita lihat di dalam sangkar, ada cerita yang mungkin tidak pernah kita lihat. Ada proses pemikatan atau penangkapan. Ada perdagangan, ada perjalanan dan pengangkutan. Ada stres, luka, kelaparan, penyakit, bahkan kematian. Dan semakin tinggi permintaan terhadap satwa tertentu, semakin besar pula insentif untuk mengambil satwa dari alam.

Angka-angka tentang kesejahteraan satwa di Indonesia juga membuat foto-foto yang saya ambil hari ini terasa semakin sulit untuk diabaikan. World Animal Protection melalui Animal Protection Index menempatkan Indonesia dalam kategori E, sementara perlindungan kesejahteraan satwa dalam penangkaran dan satwa liar masing-masing dinilai D. Terlepas dari bagaimana kita memandang metodologi penilaian tersebut, kondisi ini seharusnya mendorong kita untuk bertanya lebih jauh: apakah sistem perlindungan kita sudah mampu memastikan satwa baik di alam liar atau yang dipelihara manusia benar-benar terlindungi?
Saya tidak mengatakan bahwa semua aviary, kebun binatang, atau fasilitas penyelamatan adalah sesuatu yang salah. Ada satwa yang memang tidak mungkin lagi dikembalikan ke alam dan membutuhkan perawatan permanen. Ada pula fasilitas yang bekerja untuk menyelamatkan, merehabilitasi, dan mengembalikan satwa ke habitatnya. Tetapi ada perbedaan mendasar antara menyelamatkan satwa liar dan mengoleksi satwa liar.

Yang pertama berangkat dari kebutuhan satwa. Yang kedua sering kali berangkat dari keinginan manusia. Mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaannya. Bukan lagi bagaimana saya bisa membawa alam dan satwa lebih dekat ke rumah? melainkan bagaimana saya bisa memastikan alam dan satwa di dalamnya tetap berada di tempatnya.
Sebab satwa liar tidak harus kita miliki untuk kita cintai. Kita tidak perlu memiliki burung untuk mengagumi kicauannya. Tidak perlu memiliki primata untuk menghargai kecerdasannya. Tidak perlu memiliki satwa eksotis untuk merasa dekat dengan alam. Karena pada akhirnya, mencintai satwa liar bukan tentang memiliki mereka.
Di hari satwa sedunia ini, adalah waktu yang tepat untuk memikirkan kembali tentang bagaimana kita bisa lebih welas asih terhadap satwa yang juga ciptaan-Nya.
Percayalah bahwa bentuk cinta yang paling besar adalah membiarkan mereka tetap liar hidup bebas di habitatnya, bukan di dalam sangkar atau penjara.




