Di Antara Manusia, Puisi, dan Daun-Daun yang Bercerita

Penulis: Tasya Iznada
Yogyakarta, 29 September 2026. Semilir angin malam selepas magrib menepis wajah dan menyusup sela bajuku. Di antara deru kendaraan dan hiruk-pikuk arus orang-orang pulang kerja, aku menepi. Kukeluarkan handphone karena teringat rencana menghadiri pemutaran film dokumenter di Institut Français d’Indonésie (IFI) Yogyakarta. Ada sebuah cerita yang menunggu untuk disimak malam itu, sebuah perjumpaan baru, yang barangkali bisa membawaku melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda.
Setibanya di IFI, suasana masih cukup lengang. Aku disambut ramah oleh Mbak Tesa, seorang perempuan yang kemudian diketahui merupakan sahabat dekat sang produser. Sembari menunggu rekan-rekan tim, kami berbincang ringan dan berkenalan. Aku juga menyempatkan diri membaca siaran pers dan mengamati suasana sekitar, sebelum akhirnya bertemu dengan orang-orang di balik film yang akan kami tonton.
Tak lama kemudian, rekan-rekan tim tiba. Kami berkenalan dengan Mbak Mia selaku produser dan Mas Wicak Baskoro sebagai sutradara. Rencana liputan kami disambut hangat oleh mereka. Kemudian, waktu pemutaran pun tiba.

Sejak awal Manusia, Jawa, dan Tumbuhan sudah membawaku memasuki cara bertutur yang berbeda dari dokumenter yang selama ini akrab kutemui. Sebuah adegan teatrikal membuka film dengan menampilkan seorang manusia dewasa yang menggeliat-geliat di lantai. Gerakannya menyerupai ulat bulu, atau mungkin menggambarkan sebuah proses kelahiran, aku terkesima. Entahlah, tanpa tahu pasti, aku hanya menerka-nerka, membiarkan imajinasi terlanjur berjalan lebih dulu, sementara pikiranku masih berusaha menyusul, mencari makna dibaliknya. Barangkali memang begitu cara film ini bekerja. Ia tidak terburu-buru menyodorkan jawaban, melainkan mengajak penontonnya untuk tinggal lebih lama dalam pertanyaan.
Puisi-puisi Iman Budhi Santosa (IBS) mulai dikumandangkan. Ah, kenapa aku baru menemukan puisi-puisi yang begitu dekat dan hangat ini sekarang? Namun, rasanya tak ada gunanya menyesali pertemuan yang terlambat, sudah cukup senang malam itu dapat hadir dan bertemu dengan hal baru.
Salah satu larik dari Aji Godhong Jati Aking terdengar:
“Wayahe garing, mripat sulak kuning.
Tibalah waktunya mengering, mata yang mulai sayu menguning.”
Entah mengapa, larik sederhana itu terasa begitu dekat. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar daun mengering, seolah-olah terselip cerita tentang usia, perubahan, dan kehidupan yang terus bergerak meski perlahan mulai meredup. Melalui puisi-puisi IBS tumbuhan tidak hanya menjadi latar atau penghias lanskap bagi kehidupan manusia, tetapi seperti memiliki kehidupan dan ingatannya sendiri. Kata-kata yang dilantunkan malam itu terasa seperti membuka pintu menuju ruang pemikiran yang selama ini mungkin ada di sekitar kita, tetapi luput dari perhatian.

Aku mulai menyadari bahwa film dokumenter tidak selalu bertutur dengan cara yang lugas, lengkap dengan wawancara, data, penjelasan, dan kesimpulan yang disusun sedemikian rupa agar mudah dicerna. Ada cara lain untuk menyampaikan sesuatu: melalui tubuh, gerak, suara, lanskap, puisi, dan keheningan. Barangkali kita terlalu terbiasa mencari jawaban, sampai lupa ada hal-hal dalam hidup justru lebih mudah kita rasakan sebelum mampu kita jelaskan. Malam itu, aku tidak sekadar menonton sebuah film. Aku sedang kembali belajar melihat dan mendengar.
Ada sesuatu yang menarik dari cara film dokumenter Manusia, Jawa, dan Tumbuhan merangkai manusia, kebudayaan Jawa, dan dunia tumbuhan dalam satu ruang penceritaan. Ketiganya bukan sekadar unsur yang berdiri sendiri. Mereka seperti saling memanggil, berkelindan, dan mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari lingkungan tempat ia hidup.
Kita sering membicarakan lingkungan dengan bahasa yang begitu teknis. Hutan yang hilang, lahan yang terbakar, sungai yang tercemar, satwa yang kehilangan habitat, atau angka-angka yang menunjukkan betapa gentingnya krisis ekologis hari ini. Semua itu penting. Data dibutuhkan, fakta harus disampaikan, dan kerusakan lingkungan tidak bisa hanya disikapi dengan perasaan sedih.

Namun, di tengah segala angka dan laporan, aku kadang bertanya-tanya: sudah sejauh apa kita benar-benar merasa terhubung dengan alam yang sedang kita bicarakan?
Apakah kita masih mampu memandang tumbuhan lebih dari sekadar objek penelitian, komoditas, atau sesuatu yang kebetulan tumbuh di halaman rumah? Apakah kita masih memahami bahwa kehidupan manusia sejak dahulu tumbuh bersama tanah, air, pepohonan, dan berbagai makhluk lain yang sering kita anggap sebagai latar belakang kehidupan saja?
Film ini membuatku memikirkan kembali pertanyaan-pertanyaan, bukan dengan cara menggurui, melainkan dengan mengajak kita mendekat melalui pengalaman yang lebih puitik. Kebudayaan tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh, terkunci di dalam buku sejarah atau tersimpan di balik istilah-istilah yang sulit dipahami. Ia hadir sebagai bagian dari cara manusia hidup, merasakan, mengingat, dan membangun hubungannya dengan alam.
Aku jadi teringat bisa jadi persoalan lingkungan sesungguhnya tidak selalu bermula dari kerusakan yang kasatmata. Ada pula persoalan yang berakar lebih dalam, pada cara kita memandang dunia, pada nilai-nilai yang kita warisi, pada hubungan yang perlahan berubah antara manusia dan ruang hidupnya. Barangkali, sebelum kita berbicara tentang bagaimana menyelamatkan alam, kita juga perlu bertanya kapan dan mengapa kita mulai merasa terpisah darinya.

Pertemuan kami dengan Mas Wicak, Mbak Mia, Mas Ndaru, dan rekan-rekan lainnya juga membuka ruang percakapan tentang karya, proses kreatif, serta kemungkinan kolaborasi setelah acara ini. Ada angin segar dari keputusasaan di tengah berbagai bencana ekologis hari ini ketika bertemu dengan orang-orang yang bersedia berbagi ruang dan menyambut gagasan dengan terbuka. Percakapan-percakapan sederhana seperti ini yang membawa sebuah karya tidak berhenti pada saat ia selesai dibuat. Ia dapat menemukan kehidupan baru melalui orang-orang yang menonton, membicarakan, dan membawa pulang pemikiran yang berbeda-beda.
Tentu setelah malam itu aku tidak pulang langsung menjadi seseorang yang lebih memahami puisi, lebih mahir membuat film, atau lebih bijak dalam memandang hubungan manusia dengan alam. Tentu saja tidak semudah itu.
Namun, aku pulang dengan tumpukan rasa penasaran baru. Aku ingin membaca lebih banyak puisi Bapak Iman Budhi Santosa. Aku ingin melihat bagaimana gagasan-gagasan lain dapat diterjemahkan ke dalam medium yang berbeda. Aku ingin belajar bahwa sebuah isu bisa didekati bukan hanya dari apa yang terlihat di permukaan, tetapi juga dari ingatan, kebudayaan, pengalaman tubuh, dan hubungan-hubungan yang selama ini mungkin luput dari perhatian.

Mungkin kita memang tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar untuk merasa hidup kembali. Kadang-kadang, kita hanya membutuhkan sebuah perjumpaan kecil yang membuka jendela baru di dalam kepala.
Seorang senior juga berkata semoga acara malam itu dapat menjadi obat hati. Di tengah dunia yang terus menuntut kita untuk bergerak cepat, menghasilkan sesuatu, dan menjadi berguna setiap saat, rasanya menyenangkan menemukan ruang yang mengizinkan kita untuk berhenti sejenak. Ruang yang tidak menuntut jawaban instan, tetapi justru mengajak kita untuk bertanya lebih jauh.
Terima kasih kepada Manusia, Jawa, dan Tumbuhan untuk pengalaman yang menghidupkan ini. Untuk puisi-puisi yang membuatku bertanya mengapa aku baru menemukannya sekarang, untuk cara bertutur yang membuka kemungkinan-kemungkinan baru, dan untuk pengingat sederhana bahwa hubungan manusia dengan alam mungkin jauh lebih dalam daripada yang selama ini kita bayangkan.
Sebuah film. Sebuah puisi. Sebuah percakapan hangat dengan orang-orang yang baru dikenal. Malam itu, aku kembali diingatkan bahwa merawat bumi tidak selalu dimulai dari tindakan besar. Terkadang, ia dimulai dari kesediaan untuk melihat dengan cara yang berbeda, mendengarkan dengan lebih saksama, dan merasakan kembali hubungan yang perlahan-lahan terlupakan. Sebab, mungkin sebelum kita belajar merawat sesuatu, kita perlu belajar mencintainya terlebih dahulu, dan sebelum kita mampu mencintainya, kita perlu bersedia mengenalnya.
Dalam perjalanan pulang melewati jalanan Yogyakarta, ketika angin malam kembali menyentuh wajah dan seluruh tubuhku. Dengan saluran kepala lebih ringan dan hati lebih tenang, aku menemukan mungkin merawat bumi tidak harus selalu dimulai dari tindakan besar. Terkadang bisa bermula dari kesediaan untuk mengenal lebih dekat, mendengarkan lebih saksama, dan menerima bahwa kita bukan satu-satunya penghuni dunia. Sebab, sebagai bagian dari kehidupan yang saling terhubung, merawat bumi bukan lagi semata-mata kewajiban, namun menjadi bagian dari cara kita menghargai kehidupan itu sendiri.
Tentang Penulis
Tasya Iznada adalah penggiat muda yang menaruh minat pada isu lingkungan, kebudayaan, dan masyarakat. Ia tertarik pada pertemuan antara pengetahuan, kebudayaan, dan gerakan sosial sebagai cara untuk memahami persoalan manusia dan lingkungan. Melalui tulisan, ia berupaya merekam perjumpaan, merawat pertanyaan, dan menemukan cara-cara baru untuk memaknai dunia di sekitarnya.




