HumanioraPeople
Trending

Mengajar untuk Kembali Belajar: Sekolah Konservasi yang Tak Pernah Usai

Oleh: Annisa Rakhmadini

Jumat (17/7/2026) pagi itu, pendapa di antara sebuah area persawahan Sleman yang empat hari terakhir ini penuh riuh rendah diskusi, senyap. Tidak ada bincang-bincang santai apalagi ceramah-ceramah. Ini karena para peserta sekolah konservasi bertajuk COP School yang tahun ini telah mancik angkatan ke-16 itu, tidak akan mengawali hari dengan belajar di pendapa seperti biasanya. Alih-alih, mereka selama sejam justru mengajar.

Mulai dari dasar orangutan, investigasi terkait isu lingkungan, hingga praktik membuat pengayaan untuk orangutan, mereka telah melalui pembelajaran intensif di sekolah konservasi tahunan yang diselenggarakan oleh Centre for Orangutan Protection (COP).

Namun, di hari kelima dari enam itu, suatu yang di luar rutinitas menantang mereka: kunjungan sekolah ke SD Negeri Jetis Jogopaten. Bukan sekadar simulasi apalagi formalitas, tapi bagaimana menyampaikan pesan konservasi yang penuh kosakata akademis, kepada mereka yang belum kenal basa-basi.

Mendadak Guru

Foto: Centre for Orangutan Protection

Persiapan teknis dimulai sejak malam sebelumnya. Enam kelompok yang membagi para siswa itu, masing-masing diberi tanggung jawab satu kelas. Berbarengan, SD Negeri Jetis Jogopaten juga hanya memiliki satu kelas untuk tiap tingkatan. Tiap kelas kemudian direncanakan untuk diisi dengan subjek yang berbeda, disesuaikan dengan tingkatannya. Misalnya, kegiatan untuk siswa kelas 1 yang baru beberapa hari resmi menjadi siswa SD adalah mewarnai, sementara untuk siswa kelas 6 aktivitas diisi dengan pemaparan seputar orangutan melalui presentasi yang lebih komprehensif.

Pun demikian, itu masih menjelma tantangan: bagaimana menyampaikan deforestasi tanpa terdengar seperti artikel jurnal berjalan?

Proses menyusun materi ini berlangsung hingga larut. Para peserta yang biasa mendengarkan paparan dari para ahli dan praktisi, kini harus menjadi ahli dalam menyederhanakan tanpa kehilangan esensi. Di samping itu, mereka juga masih harus memikirkan, bagaimana agar waktu satu jam tidak terasa lama dan berakhir membosankan.

Aktivitas mewarnai, misalnya. Terdengar seperti aktivitas sederhana dan menyenangkan. Namun, satu jam bersama mereka yang baru saja menamatkan TK? Itu adalah tantangan dalam menjaga konsentrasi siswa.

Hari di Ruang Kelas

Foto: Centre for Orangutan Protection

SD Negeri Jetis Jogopaten terletak di pinggiran Sleman, tidak jauh dari pendapa tempat mereka belajar. Halamannya sederhana, dengan lapangan dari blok paving dan beberapa pohon mangga di sekelilingnya. Para peserta tiba sekitar pukul 07.30 WIB setelah berjalan kaki sejauh 850 meter. Beberapa saat setelahnya, anak-anak datang usai gerak jalan. Sejumlah anak menoleh, penasaran dengan rombongan orang dewasa berkaos orange yang datang dengan papan-papan dan boneka tangan.

Seketika, para guru mengumpulkan siswanya di lapangan untuk dikondisikan, lalu diserahkan pada peserta COP School 16. Mereka lantas diarahkan ke kelas masing-masing.

Grup 3 yang bertugas untuk kelas 2 tampak memasuki salah satu ruang kelas bercat krem itu. Dimulai dengan tepuk orangutan, mereka berusaha menggugah fokus siswa yang tampak cukup kelelahan. Dibekali aneka topeng dan boneka tangan primata, mereka membuat tebak-tebakan melalui permainan peran orangutan dan monyet ekor panjang. Mulai dari tebak satwa hingga tebak aktivitas.

Pendekatan yang nyaris sama dengan yang dilakukan oleh Grup 2 kepada kelas 3. Dengan seorang siswa, Anas Arobi, mengenakan kostum orangutan, mereka bersama menjelaskan perihal orangutan dan tempat tinggalnya secara sederhana sambil secara tersirat menyampaikan bahwa orangutan sejatinya bukan makhluk yang berbahaya jika manusia menghormati hak hidupnya.

Foto: Centre for Orangutan Protection

Hal berbeda terjadi di kelas 6 yang diisi oleh Grup 1. Dengan demografi siswa yang paling matang secara usia, mereka percaya diri mempresentasikan kondisi lapangan orangutan terkini. Bagaimana manusia seringkali memainkan peran utama terhadap kerusakan dan hilangnya ‘rumah’ orangutan. Sebab kemiripan usia, ini jadi sedikit serupa dengan aktivitas kelas 5 yang diisi oleh Grup 5.

Di kelas 5, Grup 5 membawa potret-potret asli orangutan di hutan. Melalui cara yang tak kalah interaktif, mereka memperkenalkan apa itu orangutan, bedanya dengan monyet ekor panjang, di mana mereka tinggal, dan risiko-risiko yang orangutan hadapi hanya untuk sekadar bertahan hidup.

Foto: Centre for Orangutan Protection

Kegiatan kemudian diakhiri dengan aktivitas yang menggugah gelak tawa siswa sekaligus, mungkin, paling mendekati kenyataan: permainan peran orangutan dan pohon yang dilakonkan sembari mendengar dongeng tentang pemburu dan penebang. Bagaimana siswa yang berperan sebagai orangutan harus berlarian mencari ‘pohon baru’ ketika terdengar ada ancaman, sedikit banyak, diharapkan memupuk tunas empati mereka terhadap satwa liar.

Di balik semua keriaan di tiap kelas, tersimpan harapan agar anak-anak tak lagi asing dengan primata lain. Bahwa mereka juga makhluk hidup, satu ordo bahkan satu famili dengan kita. Maka, sebagai sesama primata dan penghuni bumi yang sama, tak patut rasanya kita merasa lebih berhak atas hidup mereka. Apalagi hanya karena mereka tak bisa menyuarakan protes dengan kata-kata.

Pulang dengan Pertanyaan Baru

Foto: Centre for Orangutan Protectionn

Selepas kunjungan, para peserta kembali ke pendapa. Mereka melanjutkan aktivitas dengan makan siang bersama, tertawa kecil, dan kembali ke rutinitas yang empat hari sebelumnya telah dijalani: menjadi siswa setengah hari lagi dan memasak bersama untuk terakhir kalinya, sebelum persiapan penutupan di hari esok.

Namun, mereka kembali dengan suasana yang berbeda. Haus dan lelah, tentu. Akan tetapi, di balik itu, juga ada yang mengendap dalam pikiran masing-masing. Para peserta COP School 16, yang empat hari lalu datang sebagai siswa yang siap menyerap ilmu, kini menyadari bahwa mengajar adalah cara paling jujur untuk mengukur pemahaman diri.

Pertanyaan-pertanyaan anak SD yang bagi orang dewasa sederhana, seperti, apa itu endemik, ke mana orangutan pindah, mengapa pohon penting, apa yang bisa mereka bantu, telah menguji batas pengetahuan mereka dengan cara yang tak pernah bisa dilakukan oleh ujian tertulis.

Sebuah kegiatan yang membuat banyak di antara peserta ketagihan. Bukan sekadar untuk kesenangan pribadi, melainkan, bagaimana agar kedepannya kegagapan-kegagapan kecil khas pemula, tidak terulang. Bagaimana agar pertanyaan-pertanyaan yang meluap dari siswa, tidak dibiarkan tak terjawab begitu saja. Sehingga, siswa SD tidak hanya mengingat hari itu sebagai hari di mana ada kakak-kakak relawan mengajak bermain dan membagikan stiker sebagai ganjaran keaktifan. Setidaknya, itu yang dipikirkan oleh Indryessy Herera Prathiwi dan Siti Rahma Wahidah, dua di antara 35 peserta COP School 16.

Sekolah yang Tak Pernah Usai

Foto: Centre for Orangutan Protection

Keesokan harinya, setelah serangkaian acara, COP School 16 resmi ditutup. Tidak ada upacara besar. Hanya ada perpisahan singkat dan janji untuk tetap terhubung. Namun, sekolah konservasi itu, dalam esensinya, tidak pernah benar-benar usai. Sebab, setiap kali mereka berbagi cerita tentang hari itu, setiap kali mereka mengingat pertanyaan polos seorang anak, mereka belajar lagi.

Sebuah siklus yang terus berputar: dari pendopo ke ruang kelas, dan suatu hari nanti, dari ruang kelas kembali ke pendapa, dengan angkatan-angkatan baru yang akan melanjutkan apa yang telah dimulai. Di suatu hari di masa depan, bukan tidak mungkin, ada di antara  anak SD yang mendengarkan cerita orangutan tadi tumbuh dewasa dan duduk di pendapa yang sama. Sebagai peserta, sebagai relawan, atau bahkan sebagai pemateri. Mengulang siklus belajar dan mengajar yang sama.

Sekolah konservasi, pada akhirnya, tak benar-benar pernah usai selama upaya konservasi itu sendiri tidak berhenti; selama alam dan kehidupan satwa liar masih belum terbebas dari kewaspadaan akan entah apa yang hendak dilakukan manusia kepadanya.

Tentang Penulis

Belajar Geografi Lingkungan. Menulis tentang isu lingkungan, konservasi, sosial, serta berbagai irisan di antaranya. Kontributor di Garda Animalia.


Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button