
Oleh Danang Anggoro
Peringatan Hari Ulang tahun ke-81 Republik Indonesia, seharusnya tidak membawa kita semua kedalam sekedar euphoria perayaan maupun peringatan ulang tahun dengan lomba-lomba yang unik nan meriah atau romantisasi perjuangan bersenjata masa lalu. Tanpa bermaksud untuk membenci atau melarang perayaan-perayaan tersebut, tulisan ini mencoba memberikan alternatif refleksi untuk mengisi perayaan Hari Ulang tahun ke-81 Republik Indonesia ini, dengan cara yang berbeda yaitu menelaah lagi pemikiran-pemikiran tentang konservasi alam di Indonesia.

Lintasan waktu telah memberi bukti, bahwa pemikiran konservasi alam asli Indonesia selama ini direduksi dan digerus oleh bangsanya sendiri bahkan ketika bangsa ini sudah merdeka.Konservasi alam Indonesia menjadi elitis, yang seakan-akan hanya dapat dilakukan oleh segelintir orang berpunya yang bahkan hartanya diperoleh dari merusak alam, merusak hutan-hutan Indonesia, merusak habitat gajah, merusak habitat orangutan maupun merusak habitat harimau.
Konservasi alam yang dilakukan segelintir orang yang tangannnya dipenuhi darah-darah satwa liar, memajang satwa liar sebagai tropi kebanggaan dan kemudian mencuci kejahatannya terhadap satwa liar dengan kedok penyayang satwa atau pendiri lembaga konservasi dengan sederet penghargaan konservasi dari pemerintah dan pengakuan internasional yang membuatnya semakin jumawa.

Konservasi alam disulap menjadi kegiatan-kegiatan mewah bernilai tinggi yang memerlukan infrastuktur rumit dengan dukungan dana sangat besar sehingga diperlukan inovasi-inovasi tingkat tinggi yang makin menjauhkan masyarakat dari konservasi alam sebagai kehidupan sehari-hari.
Ketika masyarakat semakin terpisah dan terjauhkan dari konservasi alamsaat ini, ketika ideologi konservasi alam modern mendapatkan masalah-masalah untuk dibumikan, tampaknya ada yang telah tercerabut dan hilang dari jati diri dan citra diri masyarakat Indonesia. Masyarakat yang dengan budayanya mampu membangun identitas konservasi yang kuat melalui koeksistensi dengan alam.

Menatap sebuah spanduk pada acara upacara Peringatan Hari Ulang tahun ke-81 Republik Indonesia, bertuliskan besar “ Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur”, muncul pertanyaan-pertanyaan besar. Apakah Indonesia berdaulat atas konservasi alamnya? Apakah adil membiarkan masyarakat menjadi penonton konservasi alam? Apakah mayarakat Indonesia makmur dengan konservasi alamnya?
Merdeka….merdeka…merdeka…!!!



