In the Age of Bad News: Satwa-Satwa yang Menderita karena Krisis Karhutla

Penulis: Annisa Rahmawati
Yogyakarta, 18 September 2026. “Jangan bermain api” adalah sebuah ungkapan satire yang mungkin sangat pas dengan situasi krisis kebakaran hutan dan lahan saat ini. Satire kepada pelaku kejahatan ekologis bahkan sosial yang bersembunyi di balik pertumbuhan ‘ekonomi’ dan kesejahteraan ‘masyarakat”. Fakta bahwa tiada asap tanpa api, tiada api tanpa pembakarnya, tiada lahan terbakar tanpa sawit atau alih fungsi lain sesudahnya adalah sebuah rahasia yang sangat umum dan berulang dari tahun ke tahun.
Lebih dari satu dekade saya menyaksikan krisis tahunan ini. Krisis karhutla yang hanya menjadi perhatian saat asap beracunnya berdampak ISPA yang luas bagi masyarakat ataupun jika ada negeri jiran yang melayangkan komplain. Literally, saya menangis.
Tapi Karhutla tahun ini sangat brutal, bukan hanya karena pengaruh Godzilla El Nino yang menyebabkan musim kemarau yang panjang dan pemicu kekeringan, melainkan dampaknya yang hebat terhadap kekayaan keanekaragaman hayati kita, satwa liar kita seperti Orangutan Kalimantan, Gajah Sumatera, bekantan, trenggiling dan masih banyak lagi yang lain yang harus mengungsi entah kemana, diungsikan, diselamatkan atau bahkan tewas terpanggang api.

Ini sudah ALERTA! Tanda bahwa hutan-hutan kita sudah melampaui batas ketahanan ekosistemnya, tanda bahwa rantai makanan terganggu dan fungsi ekologis hutan kita sudah mulai collapse karena terlalu masifnya perusakan hutan dan alih fungsi legal dan ilegal yang membuka akses perluasan lahan komoditas monokultur maupun tambang. Sebuah tanda besar dan nyata bahwa resiliensi ekosistem hutan sudah sangatlah rapuh dan berpotensi tak dapat lagi dikembalikan. Terlalu banyak berita satwa-satwa liar yang keluar dari hutan habitatnya menuju ke wilayah pemukiman dan aktivitas manusia, adalah mimpi buruk yang lebih dari sekedar bad news.
Laporan Geopix baru-baru ini Alerta! Borneo Lautan Api menguak dampak yang meluas bagi habitat dan kelangsungan populasi orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), setidaknya 60% habitat mereka terdampak akibat Karhutla ini di sepanjang 1 Juni – 28 September, dengan titik api 72% berada di semua wilayah kantong habitat penting 3 sub spesies orangutan Kalimantan yaitu P. p. morio, P. p.wurmbii dan P. p. pygmaeus. dengan tingkat kerentanan tertinggi pada subspesies P.p. wurmbii.
Laporan kedua Geopix yang baru dipublikasikan beberapa hari yang lalu “Alerta! Bernapas dalam Asap”, dengan pemantauan periode Juni- 8 September menunjukkan 12% titik hotspot berada di 21 wilayah kantong gajah sumatera, dengan total area terdampak 382.000 ha dari total 5,4 juta ha seluruh wilayah kantong habitat gajah sumatera, angka yang tidak sedikit kalau kita memahami status gajah sumatera yang saat ini sudah terancam punah. Sementara itu wilayah kantong habitat gajah yang menduduki dua besar ranking kerentanan terhadap karhutla tahun ini adalah Padang Sugihan-Simpang Heran (Sumatera Selatan) dan Bukit 30, Tebo, Serangge dan Tanjung Jabar Barat (Jambi).

Bahaya polusi PM2.5 dari asap karhutla sangatlah mengerikan, berbahaya bagi siapa saja yang menghirupnya baik manusia maupun satwa liar yang setiap tahun menghirup racun ini. Mati tercekik asap berujung ISPA atau mati muda cepat atau lambat. Terbukti nyata, orangutan Sampurna di Kalimantan Barat yang harus mati, tubuhnya kalah terhempas di tengah-tengah jajaran sawit, dalam upayanya mencari “pertolongan”, paru-parunya tak bisa bertahan lebih lama dicekik asap beracun karhutla yang dihirupnya, ketika ganas asap dan api melalap hutan yang menjadi rumahnya.
Ancaman-ancaman bagi habitat dan populasi gajah sumatera semakin bertambah. Investigasi yang dilakukan Geopix di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh berupa ancaman terhadap populasi gajah sumatera di lanskap ini adalah jerat, racun, pagar listrik dan perambahan yang sangat masif yang diabaikan oleh perusahaan, terutama di wilayah PT. LAJ milik Michelin Group, sebuah perusahaan karet global ternama yang bermarkas di Perancis. Setidaknya per tahun ini, terjadi penambahan jerat/pagar listrik di seluruh wilayah konsesi Michelin di Jambi dari 70 km menjadi sekitar 100 km, termasuk yang berada di dalam areal lindungnya (Wildlife Conservation Area) yang menghambat dan menjadi ancaman langsung kelompok-kelompok gajah sumatera yang menjelajah di wilayah ini.
Lebih dari 20 gajah telah mati di Bentang Alam Bukit Tigapuluh sejak tahun 2013. Dan baru-baru, sebuah pemberitaan membawa kabar sangat mengejutkan bahwa ada seekor anak gajah ditemukan sudah dalam keadaan mati per tanggal 25 Agustus 2026 dan dikuburkan di wilayah konsesi Michelin Group tersebut. Hati saya terluka, sangat terluka, dan saya yakin kita semua marah dan mengecam kejadian ini, karena perusahaan ini telah abai dan lalai dalam melindungi gajah sumatera. Shame on you Michelin Group!

Untuk memutus mata rantai krisis karhutla pada habitat gajah sumatera ini, pemerintah harus segera memperkuat perlindungan dan pemulihan ekosistem hutan, gambut, dan koridor ekologis bagi satwa liar, termasuk kawasan yang berulang terbakar seperti Padang Sugihan–Simpang Heran dan Bentang Alam Bukit Tigapuluh dan kantong-kantong habitat gajah lainnya, termasuk penanganan yang serius terhadap ancaman bagi populasi gajah sumatera seperti peracunan, jerat/pagar listrik ,perambahan dan lain-lain, yang sebenarnya sudah teridentifikasi dalam dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan terbaru.
Geopix juga meminta pemerintah untuk melakukan kajian ulang populasi dan habitat orangutan kalimantan sebagai dasar PHVA baru pasca krisis karhutla ini beserta penyusunan Rencana Aksi Darurat Penyelamatan Populasi dan Habitat Orangutan Kalimantan. Pada saat yang sama, penegakan hukum yang tegas dan evaluasi terhadap perizinan berusaha pemanfaatan hutan bahkan perhutanan sosial yang berada di wilayah yang menjadi habitat penting bagi satwa liar dilindungi di Indonesia. Mengingat skala krisis karhutla yang sangat besar tahun ini, pemerintah perlu mempertimbangkan status bencana/darurat bagi satwa liar dan memastikan seluruh komitmen konservasi dapat dikerahkan dan dipertanggungjawabkan untuk menangani krisis ini.
Sampai detik saya menulis saat ini, karhutla masih terjadi di wilayah-wilayah kunci habitat satwa liar kita, hutan tropis merupakan sumber napas kita dan seluruh dunia bergantung. Terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak, terutama tim gabungan Kementerian Kehutanan , Manggala Agni, BNPB, Kepolisian, TNI dan mitra konservasi serta pihak-pihak lain yang berjibaku di lapangan memadamkan api dan menyelamatkan satwa-satwa liar yang tidak dapat bersuara karena telah kehilangan segalanya.

Tetap semangat dan nyalakan harapan. Semoga segera berakhir krisis karhutla ini, segera pulih dan lestari lah hutan dan satwa Indonesia.
Amin.
Tentang Penulis:
Annisa Rahmawati adalah Senior Wildlife Campaigner/Co-Director Geopix




