[PRESS RELEASE] Laporan Geopix: Koridor Gajah Sumatera di Konsesi Michelin Group Masih dalam Kondisi Kritis

Unduh di sini:
Laporan Krisis WCA Januari 2026
Yogyakarta, 13 Februari 2026. Bentang Alam Bukit Tiga Puluh di Jambi merupakan salah satu kantong populasi Gajah Sumatera yang sangat penting yang masih tersisa di Indonesia. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi dalam Kaleidoskop Koridor Hidupan Liar Bentang Alam Bukit Tiga Puluh, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi 2018 – 2022 menyebutkan bahwa pada bentang alam ini terdapat 96 sampai dengan 129 ekor Gajah Sumatera yang terbagi atas beberapa kelompok. Geopix merilis laporan pemantauan yang menunjukkan risiko tinggi runtuhnya habitat penting Gajah Sumatera ini karena kerusakan habitat dan terputusnya koridor ekologis . Temuan ini berfokus pada Wildlife Conservation Area (WCA) yang berada di dalam konsesi PT Lestari Asri Jaya / PT Royal Lestari Utama milik Michelin Group, yang telah ditetapkan sebagai koridor ekologis penting bagi Gajah Sumatera di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh, Jambi.
Pemantauan lapangan yang dilakukan pada Oktober 2025 hingga Januari 2026 membuktikan bahwa kondisi pengelolaan di WCA belum menunjukkan perbaikan upaya perlindungan yang signifikan. Dari total 25 temuan yang diidentifikasi sejak Oktober 2025, mayoritas memperlihatkan pola berulang berupa perambahan aktif, pembukaan lahan dengan pembakaran, pendirian bangunan baru, penggunaan pagar listrik, serta masuknya alat berat ke dalam kawasan yang seharusnya berfungsi sebagai koridor ekologis. Sebagian besar lokasi yang telah dilaporkan sebelumnya juga belum ditangani secara efektif, dan dalam beberapa kasus justru menunjukkan indikasi perluasan aktivitas ilegal baru yang belum ditangani dengan baik.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa fungsi ekologis WCA sebagai urat nadi utama koridor ekologis bagi pergerakan Gajah Sumatera berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Fragmentasi habitat yang terus berlangsung, diperparah dengan keberadaan pagar listrik dan lemahnya pengawasan perusahaan di tingkat tapak yang meningkatkan risiko konflik manusia satwa liardan kejahatan terhadap satwa liar serta mempersempit ruang jelajah Gajah Sumatera di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh .
Dalam dialog dengan Geopix pada Desember 2025, pihak Michelin Group menyampaikan keterbatasan perusahaan dalam menertibkan perambahan dan membongkar pagar listrik tanpa dukungan otoritas pemerintah . Hingga Januari 2026, pemantauan Geopix belum menemukan perubahan nyata di lapangan yang mencerminkan komitmen perbaikan tersebut.
“Taman Nasional Tesso Nilo di Riau maupun Bentang Alam Seblat di Bengkulu telah menjadi pelajaran mahal tentang bagaimana suatu kawasan yang seharusnya dilindungi dapat kehilangan fungsi ketika perambahan dibiarkan dan pengawasan yang lemah. Temuan terbaru kami menunjukkan tanda-tanda awal kegagalan yang sama di Bentang Alam Bukit Tigapuluh. Tanpa tindakan korektif yang tegas dan terukur, koridor ekologis di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh berisiko terputus secara permanen dan kantong habitat bagi Gajah Sumatera yang relatif utuh tersebut akan runtuh ,” ujar Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix.
Geopix menilai bahwa tujuan penetapan WCA sebagai areal lindung bagi perusahaan sesuai komitmennya dan koridor ekologis bagi satwa liar belum tercapai. Persepsi masyarakat di lapangan yang masih menganggap WCA sebagai “lahan bebas”, lemahnya sosialisasi batas kawasan, serta masih minimnya penegakan hukum menunjukkan perlunya langkah korektif yang lebih kuat, penguatan kembali dan koordinasi antara para pihak terkait khususnya pemegang konsesi dan pemerintah .
“Koridor ekologis Gajah Sumatera di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh adalah infrastruktur ekologis yang tidak tergantikan. Keterlambatan dalam menghentikan perambahan, membongkar pagar listrik, dan memulihkan fungsi kawasan akan membawa konsekuensi serius bagi keberlanjutan populasi Gajah Sumatera di bentang alam ini. Tindakan segera dan transparan dari pemegang konsesi menjadi kebutuhan mendesak,” tambah Annisa.
Tanpa intervensi segera, Bentang Alam Bukit Tiga Puluh berisiko mengulang kegagalan atau keterlambatan dalam upaya perlindungan koridor ekologis yang telah terjadi di bentang alam lain di Sumatera, dengan dampak jangka panjang tidak hanya bagi kelangsungan hidup Gajah Sumatera tetapi juga stabilitas ekologis kawasan dan potensi/ancaman kejadian bencana.
Kontak Media:
Annisa Rahmawati
annisa@geopix.id


