AnimalBentang AlamSatwa Liar
Trending

Di Manakah Hutan untuk Gajah Sumatera?

Penulis: Cakrahayu Arnavaning Gusti

Yogyakarta, 11 Juli 2026. Dari jalan raya di Kabupaten Tebo, Jambi, mobil yang kutumpangi perlahan meninggalkan aspal. Jalan tanah merah khas Sumatera mulai mendominasi perjalanan. Di kiri dan kanan, bukan hutan lebat yang menyambutku, melainkan hamparan sawit sejauh mata memandang.

“Mungkin hutannya masih di depan.”

Belasan kilometer berlalu. Sawit. Lalu sawit lagi. Sesekali berganti menjadi kebun karet.

Sulit membayangkan bahwa kawasan ini merupakan bagian dari Bentang Alam Bukit Tigapuluh, salah satu bentang alam yang masih menjadi rumah bagi Gajah Sumatera.

Keesokan harinya, aku masuk lebih jauh ke dalam wilayah ini yang belakangan aku ketahui adalah kawasan konsesi PT Lestari Asri Jaya (LAJ) milik Michelin, sebuah perusahaan ban yang terkenal di dunia. Di sanalah aku mulai memahami bahwa persoalan hilangnya hutan tidak hanya pohon-pohon yang ditebang. Tetapi di sana  ada ego manusia yang mendominasi dengan alasan kepentingan, pembangunan dan kebutuhan ekonomi yang menjadi sejarah panjang yang membentuk perubahan lanskap yang kulihat hari itu.

Pagar Listrik (foto: Cakrahayu/ Geopix

Di banyak lokasi, kebun-kebun sawit baru dan ilegal terus bermunculan. Meski ada upaya untuk mengatur pemanfaatan lahan, perusakan dan pembukaan hutan   masih saja terjadi. Bersamaan dengan itu, aku juga menemukan pagar listrik yang dipasang untuk mencegah gajah memasuki kebun. Bagi pemilik kebun, pagar itu melindungi mereka. Namun bagi gajah, pagar listrik itu menjadi ancaman yang melukai, bahkan telah menghilangkan nyawa mereka 

Semakin banyak kebun-kebun ilegal tersebut menggerus hutan, maka semakin besar pula peluang manusia dan gajah saling bertemu. Sebagai contoh, Gajah sangat menyukai umbut sawit, pucuk muda tanaman sawit yang kaya nutrisi. Ketika sumber makanan seperti ini tersedia di sepanjang jalur pergerakan mereka, gajah akan mendatanginya. Dari sinilah konflik sering kali bermula.

Yang paling mengusikku bukan hanya konflik antara manusia dan gajah yang terjadi sampai dengan hari ini, melainkan kemungkinan apa yang akan terjadi di masa depan. Jika hutan terus berubah menjadi perkebunan ilegal, maka bagaimana nasib gajah yang kehilangan rumah dan pakan alaminya. Sepanjang berada di kawasan itu, aku justru lebih sering melihat bentang monokultur sawit, karet dan akasia daripada sebuah lanskap hutan yang utuh

Padahal, wilayah-wilayah tersebut sejak lama merupakan koridor inti bagi Gajah Sumatera.

foto: Geopix

Gajah memiliki ingatan yang luar biasa. Mereka menggunakan jalur yang sama selama puluhan bahkan ratusan tahun, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika jalur itu berubah menjadi kebun, mereka tidak begitu saja berhenti berjalan. Mereka hanya akan terus mencari jalan lain.

Sayangnya, jalan lain itu sering kali juga telah berubah menjadi lahan yang dikuasai manusia. Ruang gerak mereka semakin sempit, sementara peluang terjadinya konflik semakin besar.

foto: Cakrahayu/ Geopix

Perjalanan ini membuatku bertanya pada diri sendiri: di manakah sebenarnya hutan untuk gajah?

Menyelamatkan Gajah Sumatera adalah tentang memastikan mereka masih memiliki ruang untuk hidup dalam kelompok sosialnya, menjelajah , mencari makan, dan berkembang biak sebagaimana yang telah mereka lakukan selama ribuan tahun yang lalu.

foto: Geopix

Hutan yang tersisa harus benar-benar dijaga. Pembukaan lahan baru harus dihentikan, praktik-praktik yang membahayakan satwa liar harus distop, dan pengelolaan bentang alam perlu menempatkan keberlangsungan kehidupan satwa sebagai bagian dari masa depan kawasan.

Kita mungkin menjadi generasi terakhir yang masih dapat menyaksikan Gajah Sumatera berjalan bebas di alam liar. Setelah itu, mereka mungkin hanya akan hidup dalam foto, video, dan cerita yang kita tinggalkan.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button