AnimalBentang AlamSatwa Liar
Trending

[PRESS RELEASE] Pagar Listrik Menghalang, Jerat Mematikan Menghadang: Rumah Gajah Sumatera di Bentang Alam Bukit Tigapuluh Makin Tidak Aman

Unduh di sini:
Press Release Jerat Micheline

BAHASA VERSION

SIARAN PERS

(Untuk disiarkan segera)

Pagar Listrik Menghalang, Jerat Mematikan Menghadang: Rumah Gajah Sumatera di Bentang Alam Bukit Tigapuluh Makin Tidak Aman

 

Yogyakarta, 20 Juni 2026. Seekor anak gajah sumatera liar ditemukan hampir mati setelah sekitar dua minggu terjerat dengan luka menganga pada kakinya di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh. Penelusuran informasi lebih lanjut oleh Geopix kepada pihak BKSDA Jambi, menyebutkan bahwa kejadian tersebut berada di kawasan konsesi PT. LAJ milik Michelin Group, sebuah perusahaan ban multinasional terkemuka di dunia yang berbasis di Perancis. 

Anak Gajah tersebut terkena jerat saat menjelajah bersama kelompoknya di wilayah tersebut  pada sekitar tanggal 11 – 14 Juni 2026. Setelah mendapatkan perawatan yang memadai, kondisinya berangsur membaik dan telah kembali bergabung dengan induk serta kelompoknya,

Geopix menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada tim gabungan BKSDA Jambi dan Frankfurt Zoological Society (FZS) beserta pihak-pihak terkait lainnya yang telah berhasil menyelamatkan anak gajah sumatera tersebut

Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix, mengatakan, “Hanya selisih 4 hari setelah kelahiran Nona Seroja di TN Tesso Nilo, kita semua kembali menyaksikan suatu kejadian yang sangat memprihatinkan bahwa seekor anak gajah liar harus menyabung nyawa akibat jerat yang dipasang di dalam wilayah konsesi PT. LAJ, Jambi Hal ini semakin membuktikan bahwa ancaman terhadap habitat gajah sumatera tidaklah surut. Salah satu “rumah” gajah sumatera di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh semakin tidak aman.” 

Kondisi memprihatinkan di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh tersebut adalah keberadaan  pagar listrik yang terpasang sekitar 70 km di seluruh kawasan  konsesi PT LAJ yang  sekitar 46,6 km-nya berada di dalam wilayah Wildlife Conservation Area (WCA) mereka, sebagaimana telah dilaporkan oleh  Geopix sejak bulan  Mei tahun lalu. Pagar listrik tersebut yang telah menewaskan gajah Umi pada akhir tahun 2024 dan memutus koridor gajah yang sampai saat ini belum teratasi dengan baik, . Kini ditambah lagi bahaya besar berikutnya berupa jerat yang menghantui pergerakan gajah sumatera di bentang alam tersebut. 

“Peristiwa ini menunjukkan salah satu kegagalan Michelin Group  dalam memenuhi janjinya untuk melindungi habitat gajah sumatera dari perusakan wilayah hutan yang makin masif. Michelin Group sebagai pemegang konsesi hutan produksi tidak boleh melakukan pembiaran dan melepas tanggung jawabnya untuk secara aktif melindungi habitat dan jalur jelajah gajah di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh. Jika hal tersebut tidak dapat dilakukan atau dipenuhi, sebaiknya Michelin Group  berhenti untuk mempromosikan komoditas karetnya sebagai green rubber di pasar ban dunia.

Bentang Alam Bukit Tiga Puluh merupakan ekosistem hutan yang penting dan  menjadi “rumah besar” tidak hanya bagi gajah sumatera tetapi juga satwa-satwa liar penting lainnya seperti harimau sumatera dan orangutan d. Kantung populasi gajah di bentang alam ini  hanya menyisakan  tidak lebih dari 129 ekor  dari keseluruhan kurang lebih 1200 ekor populasi gajah sumatera yang tersebar dan terfragmentasi habitatnya di 21 kantong populasi di Sumatera. 

 

==END==

 

Kontak Media:

Annisa Rahmawati

Senior Wildlife Campaigner Geopix

email: annisa@geopix.id

 

Tentang Geopix 

Geopix merupakan organisasi kampanye lingkungan independen yang bekerja mendorong perlindungan satwa liar, habitat dan bentang alam kritis, serta keadilan ekologis di Indonesia. Geopix adalah anggota dari Wildlife Animal Rescue Network (WARN), organisasi koalisi regional yang berfokus pada penguatan kapasitas pusat penyelamatan satwa liar, peningkatan edukasi konservasi, penerapan standar minimum perawatan bagi satwa liar serta mendorong kolaborasi dalam mengatasi kejahatan satwa liar lintas negara.

 

ENGLISH VERSION

PRESS RELEASE

(For immediate release)

Electric Fences Block the Way, Deadly Snares Lay in Wait: The Home of Sumatran Elephants in the Bukit Tigapuluh Landscape Is Becoming Increasingly Unsafe

 

Yogyakarta, 20 June 2026.  A wild Sumatran elephant calf was found near death after being trapped in a snare for approximately two weeks, suffering a severe open wound on its leg in the Bukit Tigapuluh Landscape. Further inquiries conducted by Geopix with the Jambi Natural Resources Conservation Agency (BKSDA Jambi) revealed that the incident occurred within the concession area of PT LAJ, a subsidiary of the Michelin Group, one of the world’s leading multinational tire companies headquartered in France. 

The elephant calf is believed to have become trapped while roaming with its herd in the area between 11 and 14 June 2026. Following adequate veterinary treatment and care, its condition gradually improved, and it has since reunited with its mother and herd in the wild.

Geopix expresses its highest appreciation to the joint rescue team from BKSDA Jambi, the Frankfurt Zoological Society (FZS), and all other parties involved in the successful rescue and treatment of the young Sumatran elephant.

Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner at Geopix, stated:

“Only four days after the birth of Nona Seroja in Tesso Nilo National Park, we are once again confronted with a deeply alarming incident in which a wild elephant calf nearly lost its life due to a snare set within the concession area of PT LAJ in Jambi. This incident further demonstrates that threats to Sumatran elephant habitat remain persistent. One of the remaining strongholds for Sumatran elephants in the Bukit Tigapuluh Landscape is becoming increasingly unsafe.”

The situation in the Bukit Tigapuluh Landscape is particularly concerning due to the presence of approximately 70 kilometers of electric fencing installed throughout PT LAJ’s concession area, including approximately 46.6 kilometers located within its designated Wildlife Conservation Area (WCA), as previously reported by Geopix in May last year. These electric fences were responsible for the death of an elephant named Umi in late 2024 and have disrupted important elephant movement corridors, a problem that remains unresolved. The recent snaring incident adds yet another serious threat facing Sumatran elephants within this landscape.

“This incident highlights one of the failures of the Michelin Group to fulfill its commitment to protecting Sumatran elephant habitat from the increasing destruction of forest areas. As the holder of a production forest concession, the Michelin Group must not neglect or abdicate its responsibility to actively protect elephant habitat and movement corridors within the Bukit Tigapuluh Landscape. If it is unable or unwilling to meet these responsibilities, Michelin should stop promoting its rubber commodities as ‘green rubber’ in the global tire market,” Annisa added.

The Bukit Tigapuluh Landscape is a critical forest ecosystem that serves as an important refuge not only for Sumatran elephants but also for other key wildlife species, including Sumatran tigers and orangutans. The elephant population within this landscape is estimated at no more than 129 individuals, out of approximately 1,200 Sumatran elephants remaining across 21 fragmented population pockets throughout Sumatra. 

 

==END==

 

Media Contact:

Annisa Rahmawati

Senior Wildlife Campaigner Geopix

email: annisa@geopix.id

 

About Geopix

Geopix is an independent environmental campaign organization working to advance the protection of wildlife, critical habitats and landscapes, and ecological justice in Indonesia. Geopix is a member of the Wildlife Animal Rescue Network (WARN), a regional coalition focused on strengthening the capacity of wildlife rescue centers, enhancing conservation education, promoting minimum standards of wildlife care, and fostering collaboration to combat transboundary wildlife crime.



Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button