AnimalBentang AlamEnvironmentPeopleSatwa Liar
Trending

Renungan Kebangkitan Nasional: POST KOLONIALISME DAN SINDROM INLANDER DALAM DUNIA KONSERVASI

Penulis: Ken Hardi 

Yogyakarta, 21 Mei 2026. Baru saja menerima kabar dari Sumatera Barat, seekor harimau sumatera terjerat kawat jebak babi hutan di area perkebunan warga. Tim PAGARI segera meluncur ke lokasi, menempuh perjalanan sekitar dua jam demi menyelamatkan sang satwa. Berpacu melawan waktu, sebab setiap detik begitu berharga bagi kehidupan harimau tersebut.

PAGARI sendiri merupakan singkatan dari Patroli Anak Nagari, tim bentukan Kementerian Kehutanan yang beranggotakan masyarakat kampung di sekitar habitat satwa liar. Mereka bukan pekerja bergaji, melainkan relawan yang sehari-hari berprofesi sebagai petani, namun tetap menyisihkan waktu untuk menjaga Inyiak Balang, sebutan masyarakat Minangkabau untuk Harimau Sumatera yang juga menjadi inspirasi lahirnya Silek Harimau di Ranah Minang.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pemasangan jerat babi hutan di kawasan perkebunan masih menjadi ancaman serius bagi satwa dilindungi, tidak hanya harimau sumatra, tetapi juga beruang dan satwa liar lainnya. Salah seorang warga Rao, Pasaman, Juliati (38), mengaku pertama kali menemukan harimau tersebut saat hendak pergi ke kebun pada Kamis pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Setelah melihat kondisi harimau yang terjerat, ia segera menuju pemukiman dan melaporkannya kepada anggota Polsek Rao.

Foto: Harimau sumatera yang terkena jerat babi hutan. (Dok. Tim PAGARI/COP)

 

Foto: Harimau sumatra mendapatkan perawatan intensif pasca terjerat. (Dok. Tim PAGARI/COP)

 

Foto: Luka pada leher harimau sumatra akibat jerat babi hutan. (Dok. Tim PAGARI/COP)

 

Selayaknya standar orang kampung, tentu mereka pesek (tidak mancung standar Dutch) dan kulitnya legam terbakar matahari. Tentu juga tidak good looking. Kalau bicara, terkadang belepotan bahasa Indonesia dengan logat Minang yang kental, bukan logat French atau Indonenglish ala Jaksel. Pokoknya tampang mereka tidak meyakinkan, dan mungkin banyak yang tidak percaya kalau mereka adalah para pejuang sesungguhnya yang menghadapi perambah hutan, pembalak liar dan pemburu. Mereka berjalan puluhan kilometer, membongkar jerat – jerat harimau dan memasang camera trap untuk absensi spesies – spesies satwa liar di kawasan hutan dalam grid patroli.

Foto: Tim PAGARI melakukan patroli untuk mencari dan membersihkan kawat jerat di kawasan hutan. (Dok. Tim PAGARI/COP)

 

Yang juga tak kalah seadanya adalah penampakan para ranger LSM lokal dan staff Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau Balai Taman Nasional  setempat yang mendamping mereka. Keseluruhan tim lebih mirip kelompok gerilyawan perang dalam film – film Vietnam versus Amerika kurasa. Intinya: tidak rupawan dan tidak wangi.

Foto: Kawat jerat babi hutan yang masih terpasang di kawasan hutan. (Dok. Tim PAGARI/COP)

 

Mungkin wajar  kalau mereka itu berada dalam dunia: antara ada dan tiada dalam konservasi alam. Ada tapi tidak dianggap. Publik bahkan negara/pemerintah lebih suka mereka yang rupawan, bersih dan wangi. Media apalagi, mungkin mual melihat tampang mereka. Padahal media itu isinya juga bukan orang – orang bodoh. Mereka yang bekerja di media itu berpendidikan. Apalagi netizen, yang tidak pernah salah. Algoritmanya simpel: tidak memenuhi syarat mikro drama ala China atau musik pop Korea. Alih – alih mengapresiasi kerja-kerja nyata lapangan mereka, malah lebih sibuk mengorbitkan deretan artis dan influencer, untuk membangun opini publik bahwa merekalah Si Paling Peduli, yang datang jauh – jauh dari Jakarta atau Eropa untuk beraksi. Meninggalkan kafe dan Senoparty demi menyelamatkan Gajah, Orangutan dan Harimau. Tentu saja lengkap dengan close up shot air mata, keringat dan ekspresi dramatis. Dari A ke Z, dari hutan hingga kebun binatang. Sungguh miris.

Kalau sudah begitu, biasanya saya segera geser timeline sambil misuh ketika mereka yang sudah terlalu jauh berlebihan merayakan kelahiran Harimau Benggala, Penguin, Panda dan cerita-cerita  lucu tentang Gorila. Biasanya untuk mengimbangi berita buruk tentang harimau yang tewas terjerat, gajah yang dipenggal kepalanya ataupun yang di setrum atau orangutan yang dibuldoser.  Lalu saya gowes sepeda saya penuh semangat  ke arah UGM, bertanya pada seorang begawan filsafat yang paham konservasi satwa. Komennya singkat: itu Post Kolonialisme dan Sindrom Inlander. Dalam perenungan Hari Kebangkitan Nasional ini, mungkin sudah saatnya kita bertanya dengan jujur: siapa sebenarnya yang selama ini menjaga hutan, satwa liar, dan kehidupan di negeri ini? Bukan mereka yang paling viral, si paling estetik, atau paling fasih berbicara di depan kamera. Tetapi mereka yang diam-diam berjalan di lumpur, tidur di pondok seadanya, membongkar jerat dengan tangan sendiri, menjaga hutan tanpa tepuk tangan meriah dan tanpa penghargaan.

Foto: Kawat jerat babi hutan yang berhasil dibongkar. (Dok. Tim PAGARI/COP)

 

Foto: Berhasil dilakukan pembongkaran terhadap kawat jerat (Dok. Tim PAGARI/COP)

Kebangkitan nasional seharusnya tidak hanya untuk mengenang sejarah perlawanan terhadap kolonialisme fisik, tetapi juga keberanian membebaskan diri dari cara berpikir kolonial yang masih tertanam dalam kepala kita sendiri: menganggap yang datang dari luar selalu lebih hebat, lebih pintar, lebih layak dipercaya dibanding anak-anak negeri sendiri. Selama sindrom inlander itu masih hidup, maka para penjaga hutan yang berdiri tegak di kampung-kampung akan terus berada di pinggir sejarah, meski merekalah sebenarnya benteng terakhir kehidupan negeri ini. Dan mungkin, kebangkitan yang paling penting hari ini adalah ketika bangsa ini akhirnya mampu menatap para penjaga alamnya sendiri dengan penuh hormat, percaya, dan rasa bangga.

Terimakasih pemuda pemudi negeri yang bangkit, peduli dan beraksi untuk konservasi dan berani membela kehidupan di negeri ini.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button