AnimalSatwa Liar
Trending

Sebuah Pesan dari Tiga Orangutan

Penulis: Rahmahwati Nurazizah

Berau, 29 Juni 2026. Ketika jadwal pelepasliaran Eboni, Bagus, dan Ruby akhirnya sudah bisa dipastikan, ingatanku tentang pertemuan pertama, proses panjang rehabilitasi, luka yang mereka bawa, hingga perubahan kecil yang tumbuh perlahan kembali berputar seperti kilas balik.

Foto: Centre For Orangutan Protection
Foto: Centre For Orangutan Protection

Perkenalkan, namaku Rahmahwati Nurazizah, atau Rara, seorang animal keeper BORA – Borneo Orangutan Rescue Alliance. Aku adalah sarjana Peternakan yang bekerja di dunia konservasi orangutan karena aku merasa keilmuanku cukup relevan dalam proses rehabilitasi yang bergabung sejak Oktober 2023 sebagai Animal Keeper atau perawat satwa di BORA. Awalnya aku  berfokus pada perawatan bayi orangutan hingga 2025. Tetapi, sejak 2026, peranku menjadi lebih luas untuk melakukan pengawasan perawatan semua orangutan di sana.

Menyaksikan orangutan tanpa induk kembali ke hutan selalu menghadirkan perasaan yang campur aduk. Ada bangga, lega, haru, sedikit cemas, tetapi juga bahagia yang sulit dijelaskan. Proses pelepasliaran tidak hanya upaya memindahkan satwa dari pusat rehabilitasi kembali ke hutan, ini adalah akhir dari satu misi panjang, sekaligus awal dari kehidupan baru yang seharusnya memang menjadi milik mereka.

Bagi kami para perawat satwa, dokter hewan, dan seluruh tim rehabilitasi, kepulangan orangutan ke hutan adalah hasil kesabaran dari hari-hari yang panjang: memantau, merawat, menunggu, belajar memahami karakter, menghadapi penolakan, luka, kemarahan, trauma, hingga akhirnya menyaksikan keberanian tumbuh kembali.

Dan dari perjalanan mereka, seolah ada pesan yang ingin dititipkan kepada kita. Inilah catatan kecilku tentang Eboni, Bagus dan Ruby.

Keberanian yang Muncul diatas sebuah Trauma

Foto: Centre For Orangutan Protection

Eboni baru berusia sekitar empat tahun ketika pertama kali ditemui pada 2022. Sejak awal, ia terlihat cerdas, mandiri, dan memiliki potensi besar untuk kembali ke alam liar. Namun di balik kecerdasannya, Eboni juga dikenal sulit percaya kepada manusia. Ia kerap dipandang liar, galak, dan penuh perlawanan.

Belakangan, alasan di balik sikap itu menjadi semakin jelas. Dua tahun kemudian, ditemukan dua peluru yang bersarang di tubuhnya. Eboni menyimpan trauma yang tidak pernah bisa ia ceritakan dengan kata-kata, tetapi terbaca dari caranya bertahan, menolak, dan menjaga jarak.

Foto: Centre For Orangutan Protection

Karena karakternya yang sangat waspada, Eboni tidak pernah mengikuti sekolah hutan seperti orangutan lain. Hingga pada Maret 2024, tim mencoba membuka pintu kandangnya agar ia bisa lebih bebas dan mulai berbaur. Hari pertama adaptasi sekolah hutan menjadi momen yang tak terlupakan. Eboni menjelajahi kanopi di sekitar area rehabilitasi dengan begitu gesit, membuat tim harus membuka jalur di antara pohon dan tanaman paku setinggi lutut agar ia tetap dapat dipantau.

Pada kesempatan berikutnya, Eboni mulai lebih kooperatif. Ia tidak lagi menjelajah terlalu jauh. Namun malam itu, ia memilih menginap di atas pohon jambu bersama Mabel, tanpa benar-benar tahu cara membuat sarang. Keduanya begadang. Tim pun bergantian memantau dari bawah, memastikan mereka aman.

Foto: Centre For Orangutan Protection

Proses adaptasi Eboni tidak pernah mudah. Setiap kali ia perlu kembali ke kandang, sering ada memar yang harus diterima para perawat satwa sebagai bagian dari proses memahami tenaga dan kehendaknya. Pernah suatu kali, Eboni menolak diarahkan masuk kandang setelah menggigit kuku jempol hingga ungu. Rasa sakit bahkan belum sempat terasa, tetapi tubuh sudah lebih dulu gemetar.

Namun di balik semua perlawanan itu, Eboni sedang belajar menegosiasikan kembali hidupnya. Ia menyesuaikan diri dengan lingkungan, tetapi tetap memilih menjadi dirinya sendiri: pemberani, mandiri, dan tegas. 

Tidak Harus Paling Menonjol untuk Bisa Bertahan

Foto: Centre For Orangutan Protection

Bagus menghabiskan sebagian besar proses rehabilitasinya di BORA Labanan. Saat itu, menurut para animal keeper, ia termasuk yang termuda di ruangannya, bersama Orangutan lain yaitu Devi dan Popi.

Bagus bukan tipe anak orangutan yang paling gigih mencari makanan seperti Devi. Ia juga bukan sosok yang paling anggun dan mudah mengalah seperti Popi. Bagus adalah Bagus: si penyeimbang yang adaptif.

Di sekolah hutan, nilai rapor nya standard saja. Bukan karena kemampuannya diragukan, melainkan karena ia memiliki paket kemampuan bertahan hidup yang cukup dan stabil. Ia tidak selalu tampil paling mencolok, tetapi ia mampu membaca situasi dan menempatkan diri.

Foto: Centre For Orangutan Protection

Saat beranjak remaja. Tenaganya semakin kuat, kehendaknya mulai membentuk prinsip, tetapi rengekannya masih mudah terdengar ketika ia merajuk. Bagus lebih suka beraktivitas di lantai hutan, wilayah yang biasanya menjadi area bermain para bayi orangutan. Awalnya, para bayi takut kepada sosok berambut coklat gelap dengan tubuh panjang itu. Namun perlahan, rasa takut berubah menjadi rasa ingin tahu. Mereka mulai mendekat, mengamati, dan mengenal dunia orangutan yang lebih tua melalui Bagus.

Foto: Centre For Orangutan Protection

Bagus hidup di zona aman. Ia tidak menjadi yang paling ekstrem dalam hal apa pun. Namun justru di situlah keistimewaannya. Ia dapat ditempatkan dalam berbagai kondisi, bersama siapa pun, dan tetap menemukan cara untuk nyaman.

Kegigihan Untuk Tetap Hidup Setelah Tahunan Dirantai

Foto: Centre For Orangutan Protection

Ruby datang ke pusat rehabilitasi dengan riwayat kasus yang pahit. Kondisinya membutuhkan perawatan intensif. Tubuhnya mengalami malnutrisi, penglihatannya buram, dan badannya lemas. Ia hanya mampu mendeteksi serta memakan pakan dengan warna mencolok, seperti pisang, tomat, nanas, dan wortel. Geraknya lamban. Ia belum mampu menggenggam atau mencengkeram dengan kuat. Saat itu, menangani Ruby terasa seperti menangani Harapi yang masih berusia sekitar satu setengah tahun, meskipun Ruby jauh lebih tua.

Perlahan, kondisi fisiknya membaik. Perbaikan itu membuat Ruby mulai lebih berani mengeksplorasi sekolah hutan. Namun pengalaman masa lalunya meninggalkan dampak besar. Selama enam tahun, Ruby pernah dirantai di tiang kayu dengan mobilitas yang sangat terbatas. Ia perlu belajar kembali menggunakan tubuhnya, memilih pijakan, memperkirakan jarak, dan memahami risiko di ketinggian.

Foto: Centre For Orangutan Protection

Ruby pernah jatuh dari ketinggian hampir 22 meter. Peristiwa itu menjadi pelajaran besar bagi semua. Tim belajar bahwa rehabilitasi Ruby harus dilewati dengan sangat sabar, bertahap, dan tidak boleh lengah sedikit pun. Ruby pun belajar dengan caranya sendiri. Dari kejadian itu, ia justru menunjukkan kemampuan beradaptasi yang semakin kuat.

Foto: Centre For Orangutan Protection

Dalam beberapa waktu terakhir, Ruby menjadi salah satu siswa sekolah hutan tertua. Usianya hampir sembilan tahun. Kemampuannya berkembang jauh. Bersama orangutan lainnya, Ruby mulai menjadi bagian dari kelompok orangutan yang aktif bereksplorasi di atas pohon. Dari Ruby, aku belajar tentang kegigihan. Tentang tubuh yang pernah dilemahkan, tetapi mengambil kesempatan untuk pulih. 

Di Balik Kepulangan Mereka, Ada Manusia yang Ikut Belajar

Tahun ini adalah perjalananku tiga tahun bekerja di COP,  sebagai animal keeper atau perawat satwa, Pekerjaan yang  kerap dipandang pekerjaannya kaum laki-laki. maskulin. Bayangkan dulu ini adalah pekerjaan dengan ruang karier yang sempit bagi perempuan, apalagi dengan latar pendidikan non-biologi atau kehutanan seperti diriku.

Foto: Centre For Orangutan Protection

Tapi aku salah, realitasnya pekerjaan konservasi ini menuntut banyak peran. Aku tidak hanya jadi perawat satwa. Ia juga bisa menjadi penerjemah, guru, ibu, pemimpin, admin, pencerita, dosen tamu, pembuat konten, pengelola media sosial, penyuluh, petani, tim logistik, warga, bahkan investigator.

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagiku adalah saat  melihat orangutan liar secara langsung ketika sedang cuti. Dari jalan raya, aku mampu melihat orangutan berada di atas bukit, dan aku bisa memperkirakan umur, jenis kelamin, dan bobotnya dari perawakan tubuh. Kemampuan itu aku dapatkan dari mengamati cara kerja tim medis di klinik BORA selama tiga tahun ini.

Mimpi terbesarku adalah mengenalkan perjalanan anak-anak orangutan di pusat rehabilitasi kepada lebih banyak orang, dengan lebih banyak cara. Ia berharap kesadaran publik tidak berhenti pada rasa iba atau kagum, tetapi tumbuh menjadi tindakan nyata. Aku juga ingin terus belajar, dan berkembang di dunia konservasi ini agar mampu menjawab berbagai keraguan orang, baik tentang diriku maupun keberlangsungan hidup Orangutan. Selain itu aku sangat berharap orangutan yang pernah kurawat, kelak bisa berkembang biak dan lestari  di alam liar

Cerita Mereka Baru dimulai

Pelepasliaran Eboni, Bagus, dan Ruby adalah kabar baik. Tetapi pulang ke hutan bukan berarti cerita selesai. Justru di sanalah babak baru dimulai. Mereka harus kembali membaca hutan, mencari makan, membuat sarang, menghindari bahaya, mengenali ruang jelajah, dan bertahan sebagai orangutan liar. Sementara manusia memiliki pekerjaan yang tidak kalah penting: memastikan hutan tempat mereka pulang tetap aman.

Pelepasliaran tidak akan cukup jika hutan terus ditebang, dibakar, atau dirusak oleh kepentingan manusia. Orangutan tidak hanya membutuhkan kesempatan kedua. Mereka membutuhkan rumah yang benar-benar terjaga. Inilah sebenarnya pesan yang ingin mereka titipkan saat pulang tidak berhenti sebagai cerita haru konservasi, melainkan sebuah tanggung jawab bersama.

Home Sweet Home Eboni, Bagus dan Ruby!

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button