AnimalBentang AlamSatwa Liar
Trending

NAGA DAN CUAN DI LABUAN BAJO

Penulis: Ken Hardi

Di usia berapa kamu sadar bahwa Biawak dan Komodo itu beda?

Ukurannya kurang lebih sama, bentuknya juga mirip. Antara Biawak dan Komodo memang hampir tidak ada bedanya. Bukan karena Biawak ada di mana-mana dan Komodo hanya di Taman Nasional Komodo, tapi serius, mereka memang beda setelah kamu melihat penampilannya.

Membandingkan Biawak dengan Komodo itu semacam membandingkan kucing domestik jalanan dengan kucing besar, seperti harimau dan macan di rimba raya. Please juga, jangan bandingkan dengan yang sudah dipelihara atau di habituasi di kebun binatang.

Foto: Ken Hardi/ Geopix

Begitu muncul dari balik semak belukar, hati saya berdesir dan bergumam, “Astaga, Naga. Ini bukan sekadar kadal besar. Ini adalah Naga versi Eropa, cuma kurang sayap aja.”

Dia merangkak dengan anggun, pelan tapi pasti, tapi jangan terkecoh. Mereka bisa lari cepat mengejar dan menangkapmu untuk sarapan. Kecepatan larinya bisa mencapai 20 km/jam. Kalau kamu berapa kecepatan larinya?

Komodo terlihat begitu berat melangkah, tapi bumi tidak berdebam. Sangat halus, hampir tak terdengar. Mungkin telapak kakinya ada bantalan peredam suara sehingga rusa-rusa dan manusia-manusia yang sibuk main hape tidak menyadari kehadirannya.

Foto: Ken Hardi/Geopix

Mau manjat pohon? Pikir lagi dua kali. Di atas pohon mungkin kamu akan digigit komodo-komodo kecil. Biar kecil tetap saja beracun liurnya. Komodo-komodo kecil ini menghindari dimangsa oleh Komodo besar karena mereka memang kanibal. Sebagai predator puncak, mereka juga harus bersaing menyingkirkan kompetitornya demi daya dukung hidup yang sangat terbatas di pulau yang kecil ini.

Diperkirakan, populasi komodo saat ini mencapai 1600-an ekor di Taman Nasional Komodo dan menjadi atraksi utama wisata alam di Labuan Bajo. Orang-orang dari berbagai belahan dunia berdatangan melihat langsung Naga dalam wujud aslinya, bukan makhluk astral.

Foto: Ken Hardi/ Geopix

Atraksi ini adalah sumber cuan bagi masyarakat dan negara. Airport, hotel, kafe, bahkan warung tepi jalan selalu ramai meskipun harga relatif lebih mahal dibandingkan Bali. Ya iyalah, destinasi wisata premium gitu lo.

Foto: Ken Hardi/ Geopix
Foto: Ken hardi/ Geopix

Animo masyarakat sangat tinggi untuk menyaksikan Komodo secara langsung di habitatnya. Walhasil, wisatawan membludak. Ini tantangan tersendiri bagi survival komodo. Kementerian Kehutanan harus berpikir keras bagaimana menghadapi tantangan ini: menetapkan kuota jumlah pengunjung dan termasuk menjaga agar aktivitas wisata tetap berlangsung etis. Tidak ada lagi atraksi memancing biawak keluar agar bisa berfoto dan difoto. 

Memang berat, tapi harus dilakukan untuk melindungi populasi komodo, dan inilah kunci agar pemasukan bagi negara dan masyarakat setempat terus mengalir dan komodo tetap lestari.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button