EnvironmentPeopleSeni Budaya
Trending

Lom Plai: Merayakan Ikatan Kuat dengan Manusia, Alam dan Leluhur

Penulis: Raffi Akbar dan Demetria Alika

Kutai Timur, April 2026. Di banyak tempat, panen sering dipandang sebagai hasil akhir dari musim tanam. Namun bagi masyarakat Dayak Wehea di Kutai Timur, Kalimantan Timur, panen justru menjadi awal sebuah perayaan besar yang mengingatkan kembali hubungan antara manusia, alam, dan leluhur. Hubungan itulah yang setiap tahun dirayakan melalui Lom Plai, atau yang dikenal sebagai Erau dalam bahasa Kutai.

Tim Center for Orangutan Protection (COP) berkesempatan menghadiri Pesta panen tahunan ini diselenggarakan secara bergiliran di desa-desa adat Wehea seperti Diaq Leway, Bea Nehas, dan Nehas Liah Bing. Tahun ini, puncak perayaan berlangsung di Nehas Liah Bing atau yang lebih akrab disebut masyarakat setempat sebagai Slabing, salah satu desa terbesar di Wehea.

Selama hampir satu bulan, desa-desa adat berubah menjadi ruang temu raya bagi masyarakatnya. Musik tradisional dan tariannya bergema hingga larut. Selain itu deretan stan usaha kecil menengah dan kerajinan lokal memenuhi lokasi perayaan. Ribuan warga dan tamu datang untuk merayakan hasil panen sekaligus mempererat hubungan sosial yang telah terjalin selama turun-temurun.

Sesungguhnya, Lom Plai bagi masyarakat Wehea menyimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar festival adat dan budaya. Konsep utamanya adalah menghormati tanaman padi sebagai simbol kehidupan, sehingga upacara adat dimulai dengan ritual adat sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang diberikan Tuhan. Dalam setiap prosesi tersirat keyakinan bahwa manusia bukanlah penguasa alam, melainkan bagian dari lingkaran kehidupan yang lebih besar.

Salah satunya adalah prosesi Dem Jiaq, yaitu malam tari bersama yang mempertemukan anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dalam satu lingkaran yang sama. Diiringi bunyi gong dan alat musik tradisional, ratusan orang menari selama berjam-jam. Tidak ada batas yang tegas antara penonton dan pelaku. Semua menjadi bagian dari satu perayaan bersama.

Keesokan harinya, Sungai Wehea menjadi pusat aktivitas budaya berikutnya. Sebuah prosesi yang paling dinanti di sana adalah Seksiang, tradisi yang dilakukan di sungai menggunakan rumput seksiang. Para peserta saling melempar rumput dalam suasana riuh dan penuh kegembiraan. Disini lah makna simbolisnya yaitu bentuk pembersihan diri, pelepasan hal-hal buruk, serta harapan akan keberkahan pada musim tanam berikutnya.

Sungai Wehea adalah jantung kehidupan masyarakat Dayak,  tidak hanya berfungsi sebagai ruang ekologis, tetapi juga ruang budaya yang mempertemukan warga dalam kegembiraan bersama. Hubungan manusia dengan air, yang menjadi sumber pangan dan kehidupan, kembali ditegaskan melalui ritual dan perayaan.


Tradisi lain yang tidak kalah menarik adalah Pengsaq dan Peknai, ketika masyarakat saling menyiram air dan mengoleskan arang ke wajah satu sama lain. Anak-anak berlarian dengan tawa riang, sementara orang dewasa yang awalnya tampil rapi perlahan berubah menjadi penuh noda hitam. Dalam suasana tersebut, sekat-sekat sosial seakan menghilang berganti dengan kegembiraan.

Kami juga merasakan bagaimana keramahan masyarakat Wehea sebagai bagian yang tidak terlupakan dari pengalaman kami disana.  Dalam tradisi Lom Plai, rumah-rumah terbuka bagi siapa saja yang datang berkunjung. Berbagai makanan khas seperti lemang dan Beang bit disajikan untuk dinikmati bersama. Gotong royong dalam pembuatannya dan berbagi makanan merupakan bentuk syukur yang sama pentingnya dengan ritual adat.

Acara diawali dengan tarian mandau oleh para pria, kemudian diikuti tarian para perempuan yang menceritakan penghormatan kepada Dewi Padi, Long Diang Yung. Gerakan mereka lembut namun ritmis, mengikuti gong dan gendang yang semakin lama semakin intens.

Puncak perayaan dihadirkan melalui Embob Jengea yang ditandai dengan kemunculan tarian Hudoq atau Hedoq. Puluhan penari mengenakan topeng kayu berukir dengan tubuh yang diselimuti daun-daunan dan rumput. Sosok-sosok tersebut dipercaya mewakili roh-roh yang baik, sang penjaga hutan yang membawa perlindungan dan keberkahan bagi masyarakat.

Ketika para penari memasuki arena, suasana berubah menjadi lebih khidmat dan mistis. Hudoq menjadi simbol hubungan manusia dengan kekuatan alam yang tidak selalu dapat dijelaskan secara rasional. Sosok-sosok tersebut dipercaya berasal dari langit, tanah, dan air, serta menjadi penghubung antara manusia dengan kekuatan yang menjaga keseimbangan kehidupan. Melalui ritual ini, masyarakat memohon kesuburan tanaman, keselamatan kampung, serta keberlangsungan hidup yang harmonis antara manusia dan alam.

Lom Plai tahun ini juga dihadiri oleh berbagai pejabat pemerintah daerah, perwakilan kementerian, tokoh adat, dan lembaga adat Dayak Wehea yang selama ini berperan menjaga keberlangsungan tradisi. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa warisan budaya ini tidak hanya dirawat oleh masyarakat adat, tetapi juga mulai mendapatkan perhatian yang lebih luas.

Lom Plai menawarkan pelajaran penting tentang bagaimana manusia dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan alam. Hutan, sungai, tanah, dan padi tidak dipandang sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi, melainkan sebagai bagian dari identitas dan sistem kehidupan dalam keseimbangan ekosistem. Lom plai menawarkan solusi dan nilai-nilai luhur itu yang mampu menjawab tantangan krisis iklim yang sedang terjadi saat ini, jauh dari gempita teknologi konservasi dan debat di forum forum global.

Namun perjalanan menuju hubungan yang benar-benar harmonis dengan alam juga masih menghadapi tantangan. Di tengah festival, kami masih ditemukan bagian tubuh satwa liar yang diperjualbelikan sebagai pajangan yaitu kepala rangkong dan julang. Ada yang kontras disini. Namun, tradisi yang hidup tidak boleh berhenti berkembang. Justru tradisi dapat menjadi ruang dialog untuk menemukan cara-cara baru menjaga warisan budaya sekaligus menemukan solusi bagaimana cara komunitas untuk  melindungi keanekaragaman hayati kekayaan mereka.

Di antara dentuman gong, tarian yang berputar hingga senja, aliran Sungai Wehea yang terus menghidupi kampung, serta doa-doa yang dipanjatkan setelah panen. Akhir cerita dan sebagai pengingat bagi kita semua, bahwa masa depan konservasi tidak hanya bergantung pada teknologi dan kebijakan, tetapi juga pada kemampuan kita menjaga nilai-nilai adat dan budaya yang selama ini sudah ada menghubungkan manusia dengan alam. Salam lestari!

Photo credit: @APE Crussader/COP

Lemang: beras ketan yang dimasak di dalam bambu bersama santan lalu dibakar perlahan di atas api.

beang bit: makanan tradisional Wehea menyerupai dodol yang dibuat dari tepung beras ketan hasil panen dan gula merah.


Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button