
Penulis: Cakrahayu Arnavaning Gusti
Bagi banyak orang, suara burung yang berkicau di pagi hari menghadirkan ketenangan tersendiri. Di Indonesia, burung kicau bahkan telah menjadi bagian dari budaya dan hobi yang digemari oleh berbagai kalangan. Namun, di balik kegemaran tersebut, terdapat cerita lain yang jarang dibicarakan, bagaimana tingginya permintaan terhadap burung kicau turut memberi tekanan pada populasi burung di alam liar.
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang saya temui kembali saat mengikuti kegiatan Dating Apes bertema Konservasi Burung Kicau Terancam Punah bersama Asman Adi Purwanto, Direktur Eksekutif BISA Indonesia. Kegiatan yang berlangsung di APE Warrior Camp, Sleman, Yogyakarta ini membuka perspektif yang lebih luas mengenai kompleksitas konservasi burung di Indonesia. Melalui diskusi tersebut, saya melihat isu konservasi burung tidak hanya dari sisi perlindungan satwa, tetapi juga dari sudut pandang masyarakat, budaya, ekonomi, hingga perubahan perilaku yang menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian.
Dalam pemaparannya Pak Asman menjelaskan bahwa persoalan konservasi burung tidak sesederhana membedakan mana yang benar dan mana yang salah Di satu sisi, perdagangan dan pemeliharaan burung kicau telah menjadi bagian dari budaya dan hobi yang mengakar di masyarakat. Bahkan, bagi sebagian orang, aktivitas tersebut juga menjadi sumber penghidupan dan penggerak ekonomi keluarga. Namun di sisi lain, tingginya permintaan terhadap burung kicau telah mendorong praktik penangkapan burung langsung dari alam yang mengancam kelestarian berbagai spesies.
Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi upaya konservasi. Larangan dan penegakan hukum saja tidak selalu cukup untuk menyelesaikan persoalan. Dibutuhkan pendekatan yang mampu mengajak masyarakat menjadi bagian dari solusi.

Salah satu kisah yang paling menarik perhatian saya adalah cerita tentang seorang mantan pemburu burung yang kemudian bertransformasi menjadi pegiat konservasi. Jika dahulu ia berkontribusi pada penurunan populasi burung di alam, kini justru menjadi salah satu tokoh yang aktif mengedukasi masyarakat dan mendukung perlindungan burung di wilayahnya. Kisah tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku sangat mungkin terjadi ketika masyarakat diberikan pemahaman, ruang dialog, dan kesempatan untuk terlibat dalam upaya konservasi.
Sering kali kita melihat burung peliharaan hanya sebagai hobi atau simbol prestise. Namun, tidak semua burung yang diperdagangkan berasal dari hasil penangkaran yang legal dan berkelanjutan. Banyak diantaranya masih diambil langsung dari alam. Ketika praktik ini terus berlangsung, populasi burung di habitat aslinya akan semakin berkurang. Padahal burung memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, mulai dari membantu penyebaran biji hingga mengendalikan populasi serangga.
Yang saya pelajari dari Pak Asman adalah bahwa solusi konservasi tidak hanya berbicara tentang pelarangan, tetapi juga tentang membangun kesadaran dan menawarkan alternatif yang dapat diterima masyarakat. Konservasi yang berhasil adalah konservasi yang melibatkan manusia sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar objek yang harus diatur.

Pada akhirnya, menjaga burung tetap berkicau di alam mungkin menjadi salah satu bentuk warisan terbaik yang bisa kita tinggalkan. Sebab suara burung yang terdengar bebas di hutan jauh lebih berarti dibandingkan kicauan yang hanya tersisa di dalam sangkar.



