Alarm Keras untuk Perlindungan Total Habitat Orangutan di Sumatera

Unduh di sini:
Press Release Repatriasi OU Sumatra dan Tapanuli
BAHASA VERSION
Alarm Keras untuk Perlindungan Total Habitat Orangutan di Sumatera
Yogyakarta, 19 Juli 2026. Geopix turut menyampaikan keprihatinan atas hasil penelitian ilmiah terbaru yang disampaikan oleh Kementerian Kehutanan mengenai kondisi populasi orangutan di Sumatera. Sebuah hasil survei secara komprehensif yang melibatkan juga pejabat-pejabat Kementerian Kehutanan dan dipublikasikan pada sebuah jurnal dengan rangking ilmiah tinggi (Q1), menjadikan data-data didalamnya dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan dengan baik. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa populasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) kini diperkirakan tinggal 11.694 individu, atau turun sekitar 19,5% dibandingkan tahun 2011, atau setara dengan laju penurunan sekitar 1,8% per tahun. Sementara itu, Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) diperkirakan hanya tersisa 716 individu, jumlah yang sangat rentan terhadap kepunahan karena kehilangan beberapa individu setiap tahun saja dapat mengganggu keberlangsungan populasinya.
Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa sekitar 82% populasi orangutan berada di dalam hutan konservasi, sementara sekitar 2.200 individu (18%) berada di luar sistem kawasan lindung yang perlindungannya masih lemah. Selain kehilangan hutan, penurunan populasi yang lebih tinggi dari perkiraan di kawasan-kawasan seperti Batu Ardan dan Siranggas yang mengindikasikan adanya ancaman lain, termasuk konflik manusia-orangutan, perburuan, dan kematian akibat faktor non-habitat.
Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix, menegaskan bahwa informasi-informasi ilmiah tersebut merupakan alarm serius bagi pemerintah dan seluruh pelaku usaha yang terutama beroperasi di lanskap Batang Toru, seperti PT. North Sumatra Hydro Energy (NSHE), PT. Agincourt Resources maupun PT Toba Pulp Lestari dan pihak-pihak terkait lainnya. “Lanskap Batangtoru memiliki orangutan tapanuli dengan populasi yang memiliki kerentanan tinggi terhadap gangguan dan fragmentasi habitat yang luar biasa. Bencana yang terjadi pada lanskap ini beberapa waktu lalu dan juga membawa korban pada individu-individu orangutan utan Tapanuli, seharusnya menjadi tambahan pengingat mengenai pentingnya perlindungan bagi kawasan ini.”
Penurunan populasi paling tajam terjadi di bentang alam Leuser, yang kehilangan sekitar 2.000 orangutan dalam lebih dari satu dekade. Kasus repatriasi orangutan Sumatera dari Thailand pada Desember 2025 lalu juga menunjukkan bahwa perburuan dan perdagangan ilegal masih menguras individu-individu orangutan dari populasinya di alam. Kondisi kritis juga terjadi di Rawa Tripa, yang populasinya merosot 75% dari 212 menjadi 52 individu, serta Batu Ardan yang turun sekitar 40% dari 556 menjadi 332 individu. Sementara itu, populasi Orangutan Tapanuli di blok timur relatif stabil berkat perlindungan kawasan dan patroli rutin, sedangkan blok barat kehilangan sekitar 50 individu karena sebagian besar habitatnya berada di luar kawasan lindung.
Fakta bahwa hampir seperlima populasi orangutan hidup di luar hutan konservasi menunjukkan bahwa upaya perlindungan tidak bisa lagi hanya berfokus pada kawasan-kawasan lindung yang ada pada saat ini.
“Pemerintah harus memastikan koridor ekologis bagi orang utan tetap terhubung dengan melindungi hutan-hutan yang tersisa sekaligus memulihkan hutan-hutan yang menjadi ekosistem penghubung. Selain itu harus dibarengi pula dengan upaya untuk memperkuat pengawasan dan penegakan hukum terhadap perburuan, perdagangan ilegal dan penanganan konflik manusia-orangutan yang tepat. Tanpa langkah-langkah tersebut, populasi orangutan di Sumatera akan terus menurun meskipun hutan-hutan konservasi tetap dipertahankan.”
Secara khusus, Orangutan Tapanuli berada di ambang yang semakin mengkhawatirkan dan sangat memerlukan pemantauan yang lebih intensif. Pada jumlah populasi tersebut, kehilangan satu individu pun memiliki konsekuensi besar.
Annisa menegaskan, “Tidak ada lagi toleransi lagi terhadap perusakan habitat , eksploitasi, atau aktivitas apa pun yang meningkatkan risiko berkurangnya populasi orangutan-orangutan tersebut. Geopix juga sangat mengapresiasi bahwa penelitian-penelitian ilmiah mengenai orangutan ini dilakukan dengan keterlibatan pejabat-pejabat Kementerian Kehutanan, sehingga dapat menjadi bagian dari tolok ukur kinerja dan proses evaluasi diri yang penting dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan konservasi satwa liar di Indonesia. Ini juga merupakan ujian nyata bagi komitmen Indonesia dalam menyelamatkan spesies kera besar paling langka di dunia.”
“Geopix mendesak pemerintah, sektor swasta, dan seluruh pemangku kepentingan maupun kewenangan untuk segera memperkuat kolaborasi para pihak untuk mempercepat perlindungan habitat dan memperbaiki konektivitas habitat, serta lebih memperkuat penegakan hukum terhadap kejahatan satwa liar, dan mengintegrasikan konservasi orangutan ke dalam setiap kebijakan pembangunan yang berpotensi mempengaruhi habitatnya”, lanjut Annisa.
“Enough is enough. Sudah cukup segala perusakan dan perdebatan. Konservasi adalah masalah keberpihakan. Kita semua harus bertindak sekarang atau Orangutan akan punah di depan mata kita, lebih cepat daripada yang kita bayangkan.” tutup Annisa.
– END –
Media Contact:
Annisa Rahmawati
Senior Wildlife Campaigner Geopix
email: annisa@geopix.id
Tentang Geopix:
Geopix merupakan organisasi kampanye lingkungan independen yang bekerja mendorong perlindungan satwa liar, habitat dan bentang alam kritis, serta keadilan ekologis di Indonesia. Geopix adalah anggota dari Wildlife Animal Rescue Network (WARN), organisasi koalisi regional yang berfokus pada penguatan kapasitas pusat penyelamatan satwa liar, peningkatan edukasi konservasi, penerapan standar minimum perawatan bagi satwa liar serta mendorong kolaborasi dalam mengatasi kejahatan satwa liar lintas negara.
ENGLISH VERSION
Download here:
Press Release OU Sumatra dan Tapanuli Repatriation
A Stark Warning for the Full Protection of Orangutan Habitats in Sumatra
Yogyakarta, 19 July 2026. Geopix expresses deep concern over the latest scientific findings released by Indonesia’s Ministry of Forestry regarding the status of orangutan populations in Sumatra. The comprehensive survey, conducted with the involvement of Ministry of Forestry officials and published in a prestigious Q1-ranked scientific journal, provides credible and scientifically robust data on the conservation status of Sumatran orangutans.
The study estimates that the Sumatran Orangutan (Pongo abelii) population has declined to 11,694 individuals, representing a 19.5% decrease compared to 2011, or an average annual decline of approximately 1.8%. Meanwhile, the Tapanuli Orangutan (Pongo tapanuliensis), the world’s rarest great ape, is estimated to number only 716 individuals. At such a critically small population size, the loss of even a few individuals each year could have severe consequences for the species’ long-term survival.
The findings also reveal that approximately 82% of orangutans remain within protected forest areas, while around 2,200 individuals (18%) live outside the protected area network, where habitat protection remains inadequate. Beyond habitat loss, the study identified unexpectedly high population declines in areas such as Batu Ardan and Siranggas, suggesting additional threats including human-orangutan conflict, hunting, and mortality caused by non-habitat-related factors.
Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner at Geopix, emphasized that these scientific findings should serve as a serious wake-up call for both the government and companies operating in the Batang Toru Landscape, including PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE), PT Agincourt Resources, PT Toba Pulp Lestari, and other relevant stakeholders.
“The Batang Toru Landscape is home to the Tapanuli orangutan, a population that is exceptionally vulnerable to disturbance and habitat fragmentation. The recent disaster that affected this landscape and resulted in the deaths of several Tapanuli orangutans should serve as another powerful reminder of the urgent need to strengthen protection for this critical habitat.”
The most significant population decline occurred in the Leuser Landscape, which lost approximately 2,000 orangutans over the past decade. The repatriation of Sumatran orangutans from Thailand in December 2025 further demonstrated that illegal hunting and wildlife trafficking continue to remove orangutans from the wild.
Other alarming declines include Rawa Tripa, where the population dropped by 75%, from 212 to just 52 individuals, and Batu Ardan, where numbers fell by around 40%, from 556 to 332 individuals. Meanwhile, the eastern block of the Tapanuli orangutan range has remained relatively stable thanks to protected area management and regular patrols, whereas the western block has lost around 50 individuals, largely because much of its habitat lies outside protected forests.
The fact that nearly one-fifth of Sumatra’s orangutan population lives outside protected forests demonstrates that conservation efforts can no longer focus solely on existing protected areas.
“The government must ensure that ecological corridors connecting orangutan habitats remain intact by protecting remaining forests while restoring degraded forest ecosystems that function as habitat linkages. These efforts must also be accompanied by stronger monitoring, law enforcement against hunting and illegal wildlife trade, and effective responses to human-orangutan conflict. Without these measures, orangutan populations in Sumatra will continue to decline even if protected forests remain intact.”
The Tapanuli orangutan, in particular, is approaching an increasingly critical threshold and requires far more intensive monitoring. At such a small population size, the loss of even a single individual can have significant consequences.
Annisa added, “There can no longer be any tolerance for habitat destruction, exploitation, or any activity that increases the risk of further population decline. Geopix highly appreciates that this scientific research involved officials from the Ministry of Forestry, making it an important benchmark for evaluating Indonesia’s wildlife conservation performance. It is also a real test of Indonesia’s commitment to saving the world’s rarest great ape.”
She continued, “Geopix urges the government, the private sector, and all relevant stakeholders to immediately strengthen collaboration in accelerating habitat protection, restoring ecological connectivity, reinforcing law enforcement against wildlife crime, and integrating orangutan conservation into every development policy that may affect orangutan habitats.”
Concluding her statement, Annisa said, “Enough is enough. The time for destruction and endless debate is over. Conservation is a matter of choosing where we stand. We must act now, or orangutans will disappear before our eyes, far sooner than we imagine.”
– END –
Media Contact:
Annisa Rahmawati
Senior Wildlife Campaigner Geopix
email: annisa@geopix.id
About Geopix:
Geopix is an independent environmental campaign organization working to advance the protection of wildlife, critical habitats and landscapes, and ecological justice in Indonesia. Geopix is a member of the Wildlife Animal Rescue Network (WARN), a regional coalition focused on strengthening the capacity of wildlife rescue centers, enhancing conservation education, promoting minimum standards of wildlife care, and fostering collaboration to combat transboundary wildlife crime.




