
Oleh: Annisa Rahmawati
Jakarta, 15 Agustus 2026. Di salah satu titik wilayah hutan yang masih tersisa di Bentang Alam Bukit Tigapuluh Jambi, ada yang membuat saya takjub. Sebuah pengalaman yang menegangkan sekaligus takjub yang tidak akan saya lupakan seumur hidup, yaitu mendengar suara gaduh kelompok gajah liar pada dini hari yang tidak jauh dari tempat saya menginap yaitu di camp Alam Bukit Tigapuluh, sebuah PBPH yang berfokus pada restorasi ekosistem. Pagi harinya, saya menyaksikan jejak kehidupan kelompok gajah liar tersebut dalam rupa penampakan feses yang melimpah di sepanjang jalan sekitar camp. Sungguh pemandangan yang tidak biasa bagi saya. Diperkirakan kelompok gajah ini terdiri dari sekitar 30 an ekor individu gajah sedang lewat atau mungkin sedang bersantai di tempat ini. Sungguh wilayah ini adalah harapan besar bagi kelangsungan hidup gajah sumatera.
Sang Raksasa abu-abu, Gajah adalah satwa yang menjadi simbol kekuatan, kecerdasan dan kebijaksanaan yang menginspirasi kehidupan manusia. Profilnya ada dimana-mana di keseharian kita. Mulai dari logo universitas, partai politik, sarung, kopi, bahkan racun tikus. Dalam tradisi budaya nusantara pun, kehidupan nenek moyang kita tidak bisa terlepas dari kehidupan gajah, berabad-abad lamanya, manusia dan gajah sudah terlebih dahulu ber ko-eksistensi hidup berdampingan saling menghormati.

Namun sungguh miris nasib gajah kita kini. Hampir setiap saat kita mendengar gajah mati mengenaskan. Ancaman terhadap populasi megafauna ini sangat masif. Hutan habitat mereka rusak dan ruang mereka menyempit, karena perambahan dan alih fungsi hutan menjadi sawit dan tanaman industri seperti karet, eukaliptus dan akasia, termasuk aktivitas pertambangan. Belum lagi ancaman racun, jerat dan pagar listrik non-standar serta perburuan gading menjadikan satwa langka ini makin kritis dan terpuruk di alam liarnya. Sementara itu tidak jauh beda kondisinya di balik kandang kebun binatang dan panggung hiburan. Eksploitasi bertubi-tubi tanpa memperhatikan kebutuhan dasar dan naluri mereka sebagai satwa liar makin melengkapi penderitaan gajah di negeri kita. Pun menjelang hari Hajah Sedunia Tanggal 12 Agustus yang baru lalu, seekor anak gajah mati sia-sia karena EEHV. Sudah barang tentu, kemudian kita bertanya, apa yang sudah dilakukan Pemerintah kita untuk melindungi gajah sumatera dan kalimantan yang sangat langka ini.

Untungnya, angin segar bertiup untuk gajah Indonesia. Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Inpres No. 8 Tahun 2026 tentang Penyelamatan Populasi dan Habitat Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan, yang menjadi sinyal positif bagi perlindungan gajah secara multisektoral dan terintegrasi, mencakup populasi, habitat, serta koridor ekologis.
Sementara itu Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah 2026-2036 yang baru saja diluncurkan bersamaan dengan Hari Gajah Sedunia, mencakup isu-isu penting dan strategis, mulai dari perdagangan satwa liar, konektivitas/koridor, pemulihan habitat yang tidak sekadar penanaman, hingga pengelolaan metapopulasi. Bahkan, protokol perpindahan antar habitat dan pelepasliaran gajah binaan telah masuk dalam dokumen ini sehingga sangat menjanjikan untuk dapat menjadi landasan untuk mendorong implementasi di tingkat tapak. Dalam dokumen SRAK juga menyatakan bahwa 56% sebaran gajah Sumatera berada di luar hutan konservasi dan hutan lindung. Artinya, penyelamatan gajah tidak bisa hanya bertumpu pada kawasan konservasi, tetapi harus memastikan perlindungan habitat dan koridor di luar kawasan lindung.

Gajah membutuhkan hutan yang aman untuk bergerak menjelajah. Mereka membutuhkan perlindungan dari jerat, racun, perburuan, dan berbagai ancaman yang membuat perjalanan mereka semakin berbahaya. Dan kita membutuhkan keberanian untuk melindungi hutan tersisa dan memastikan pembangunan tidak menghapus ruang hidup satwa liar.
Perjalanan menyelamatkan gajah tentu tidak mudah. Tetapi ketika melihat tanda-tanda bahwa satu kawanan besar masih bergerak bebas di bentang alam ini bersama anak-anak mereka, saya kembali percaya bahwa perjuangan ini layak diteruskan.

Harapan terbesar saya dari pemandangan feses gajah yang saya alami inj adalah bagaikan mereka tetap memiliki tempat untuk hidup sebagai gajah Indonesia yang liar, bebas, dan aman di rumahnya sendiri
Terimakasih kepada BKSDA Jambi dan Tim ABT atas upaya kerasnya mempertahankan kelestarian habitat gajah Sumatera di bentang alam bukit tigapuluh.
Terima kasih kepada koalisi masyarakat, otoritas pemerintah, organisasi masyarakat sipil, komunitas dan setiap individu yang berani beraksi untuk gajah Indonesia
Make Elephant Great Again. Kembalikan Kejayaan Gajah.
Selamat Hari Gajah Sedunia 2026!
Tentang penulis: Annisa Rahmawati adalah Senior Wildlife Campaigner/Co-Director Geopix




