EnvironmentPeopleSeni Budaya
Trending

Kalender Kuno dan Krisis Iklim: Pelajaran Apa yang Sudah Kita Lupakan?

Penulis: Annisa Rahmawati

Yogyakarta, 17 Juni 2026. Mungkin ada yang belum tahu bahwa Kalender Jawa yang sampai hari ini dipakai oleh masyarakat Jawa sesungguhnya merupakan asimilasi dari dua tradisi budaya yang besar yaitu Kalender Saka yang berkembang sejak masa Hindu-Buddha dan Kalender Islam atau Hijriah yang datang saat masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara.

Foto: Ken Hardi/ Geopix

Peradaban budaya-budaya tersebut berkembang pesat jauh sebelum manusia mengenal jam mekanik ataupun kalender digital. Ternyata leluhur kita di Nusantara, belajar membaca waktu melalui alam dengan mengamati pergerakan matahari, fase bulan, arah angin, pasang surut laut, hingga perilaku satwa menjadi petunjuk penting dan kalkulasi dalam untuk menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk menentukan waktu menanam dan memanen, membaca pergantian musim, menentukan waktu melaut, hingga menetapkan hari-hari penting untuk ritual dan kehidupan spiritual.

Foto: Ken Hardi/ Geopix

Sejak berabad-abad lamanya Kalender Saka masih digunakan hingga saat ini, dan Tahun Barunya adalah Hari Raya Nyepi yang perayaannya masih dilakukan oleh saudara kita umat Hindu. Pada tahun 1633 M, Sultan Agung dari Keraton Yogyakarta berinisiatif untuk melakukan upgrade pengembangan Kalender Jawa, di mana angka tahunnya tetap melanjutkan penomoran Saka, tetapi sistem perhitungannya mengikuti kalender Islam yang berbasis pergerakan bulan. 

Sebuah keputusan yang sungguh menarik. Hasilnya adalah kalender yang unik dan mempersatukan masyarakat Jawa. Sampai dengan saat ini, Kalender Saka ini memiliki usia hampir dua ribu tahun dan hidup serta digunakan dalam harmoni dengan Kalender Jawa dan Kalender Islam Hijriah. Ketiga penanggalan tersebut lahir dari kebutuhan yang sama yaitu keinginan memahami keteraturan di alam semesta sebagai pedoman menjalani kehidupan.

Krisis lingkungan yang kita hadapi saat ini, berakar saat manusia makin menjauh dari ritme alam untuk menuruti egonya. Padi ditanam tanpa mengenal musim. Hutan ditebang tanpa mengenal batas. Sungai dibendung tanpa memahami siklusnya. Laut dieksploitasi tanpa memberi kesempatan untuk pulih. Nah, saat ritme alam diabaikan, keseimbangan ekosistem mulai terganggu. Banjir, kekeringan, hilangnya keanekaragaman hayati, konflik manusia dan satwa liar, hingga perubahan iklim menjadi konsekuensi yang kita rasakan bersama.

Foto: Hery/ Geopix

Penanggalan Kalender Saka dan Hijriyah yang diintegrasikan dalam Sistem Kalender Jawa merupakan wujud memahami keteraturan itu dan momen tahun baru tersebut menjadi hal yang sangat sakral bagi manusia yaitu momen kebaruan dan terlahir kembali, tetapi terkadang kita hanya sebatas merayakannya dengan gembira tapi lupa inti pelajaran dari alam semesta tentang keteraturan dan kesadaran tentang dirinya dan siklus kehidupan

Dalam tradisi Jawa, Malam 1 Suro dikenal sebagai malam yang angker dan sakral, waktu untuk eling lan waspada mengingat kembali siapa diri kita, bagaimana kita hidup, dan menyadari bahwa manusia bukanlah pusat dari segala sesuatu. Kita hanyalah bagian dari kehidupan yang jauh lebih besar. Demikian juga tradisi Nyepi yang mengawali Tahun baru Saka, terutama di Bali, manusia melepaskan keterhubungan dengan duniawi, tanpa api, tanpa listrik dan menyatu dengan alam dalam harmoni untuk kehidupan yang lebih baik.

Foto: Ken Hardi/ Geopix

Bukankah Alam telah mengajarkan kita bahwa kehidupan itu memiliki siklusnya. Ada masa bertumbuh, ada masa untuk pulih, dan juga ada masa beregenerasi. Hutan membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya. Sungai memiliki siklusnya sendiri. Satwa liar memiliki musim berkembang biak, bermigrasi, dan mencari makan. Demikian pula manusia. Ada waktu untuk bekerja dan beristirahat. Ada waktu untuk menanam dan memanen. Ada waktu untuk mengambil dan ada waktu untuk memberi kesempatan alam memulihkan dirinya. Alam dan kehidupan memiliki siklus, keseimbangan, dan batas yang harus dihormati. Nah, saat siklus itu dirusak karena ego dan nafsu dan kemelekatan manusia akan dunia, maka itulah awal malapetaka.

Foto: Ken Hardi/ Annisa

Sedangkan Tahun Baru Hijriah dalam Islam juga bermakna dalam Awal tahun tidak dimulai dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW ataupun turunnya wahyu pertama, ataupun wafatnya, melainkan pada peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah. Hijrah sendiri tidak hanya bermakna pindah tempat lain yang lebih baik, melainkan simbol perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih bermakna, boleh jadi memulai kehidupan dari nol menjadi manusia yang baru untuk lebih mengenal Sang Pencipta. Hijrah mengajarkan bahwa perubahan adalah bagian dari kehidupan, namun perubahan itu harus mengarah pada kebaikan dan kemaslahatan. Untuk mencapai itu semua, dalam Islam ada tradisi muhasabah atau refleksi diri meninjau kehidupan yang lalu untuk memulai langkah baru yang lebih baik

Benang merah dari ketiga tradisi adalah sama-sama mengajak manusia untuk berhenti sejenak dari keriuhan dan rutinitas untuk melihat ke dalam diri sendiri, kemudian memperbaiki relasi hubungan kita, baik dengan sesama, dengan alam, maupun dengan Sang Pencipta.

Foto: Ken Hardi/ Geopix

Bukankah Alam telah mengajarkan kita bahwa kehidupan itu memiliki siklusnya. Ada masa bertumbuh, ada masa untuk pulih, dan juga ada masa beregenerasi. Hutan membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya. Sungai memiliki siklusnya sendiri. Satwa liar memiliki musim berkembang biak, bermigrasi, dan mencari makan. Demikian pula manusia. Ada waktu untuk bekerja dan beristirahat. Ada waktu untuk menanam dan memanen. Ada waktu untuk mengambil dan ada waktu untuk memberi kesempatan alam memulihkan dirinya. Alam dan kehidupan memiliki siklus, keseimbangan, dan batas yang harus dihormati. Nah, saat siklus itu dirusak karena ego dan nafsu dan kemelekatan manusia akan dunia, maka itulah awal malapetaka.

Foto: Ken Hardi/ Geopix

Untuk itulah, mari kita sejenak berhenti di tahun baru ini. Merenung dan mengingat kembali bahwa diri kita adalah bagian dari alam semesta dan mulai mengubah cara pandang yang menempatkan alam hanya sebagai sumber daya, menuju cara pandang yang melihat alam sebagai bagian dari kehidupan kita yang harus dijaga.

Semoga kita semua diberi kebijaksanaan untuk memperbaiki diri, menjaga keseimbangan, dan merawat bumi yang menjadi rumah bersama seluruh makhluk hidup.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button