
Penulis: Cakrahayu Arnavaning Gusti
Malang, 25 Mei 2026.
Kata Inklusi merupakan istilah serapan dari kata bahasa inggris yang berarti memasukkan semua orang ke dalam suatu ruang atau sistem tanpa pengecualian. Sebuah kata yang indah yang sering digunakan dalam program-program Pemerintah di banyak negara, baik skala nasional maupun internasional.
Selama tiga hari saya dan tim Geopix berkesempatan memaknai arti inklusi dalam suatu kegiatan bersama teman-teman DIFPALA (Difabel Pecinta Alam) dari Lingkar Sosial Indonesia.
Geopix berkolaborasi dengan LINKSOS (Lingkar Sosial Indonesia) mengusung Pelatihan Komunikasi Kampanye dan Produksi Film Dokumenter Inklusif di Malang Creative Center (MCC) dan Gunung Wedon di perbatasan antara Kecamatan Lawang dan Kecamatan Purwodadi. Kolaborasi ini lahir dari satu keyakinan bersama bahwa cerita tentang pelestarian alam dan pemajuan budaya inklusif hanya bisa kuat jika disampaikan oleh mereka yang paling dekat dengan pengalaman itu sendiri.
Hadir sebagai Narasumber utama adalah kak Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix yang berbagi pengalaman terkait menyuarakan narasi perubahan lewat komunikasi dan kampanye, dan kak Arya Dega sebagai praktisi video dan drone Indonesia, yang membekali peserta kemampuan membuat film dokumenter. Tiga hari kegiatan tersebut difasilitasi oleh Ken Kerta, Founder Lingkar Sosial Indonesia.
Peserta yang hadir beragam latar belakangnya: Sumiati (disabilitas tuli), Hirza (disabilitas netra), Ahmad Sana’i dan Yuni (disabilitas fisik), serta Robby, Jimmy, Yogi Pradimi, Widi Sugiarti, dan Ken Kerta dari kalangan non-disabilitas.Pada hari kedua, kegiatan mendaki bersama dan praktik lapangan diikuti oleh peserta tambahan dan pendampingnya dari panti Karya Asih.
MENGUBAH MINDSET DAN STIGMA

Pada sesi awal, kak Annisa memperkenalkan konsep kampanye serta menegaskan pentingnya dokumentasi dan strategi komunikasi sebagai tulang punggung setiap gerakan.
Dalam diskusi pertama bertema stigma dan penerimaan sosial, Yuni bercerita tentang diskriminasi yang ia alami di tempat kerja akibat kondisi fisiknya, namun ia bertahan hingga dipercaya menjadi supervisor dan kini membimbing karyawan baru non-disabilitas. Sumiati menceritakan pengalaman dikucilkan di lingkungan tempat tinggal karena keterbatasan komunikasi, dan bagaimana ia baru merasa benar-benar dihargai saat bergabung dengan LINKSOS yang menyediakan ruang sosial inklusif. Sementara itu, Ahmad Sanai berbagi kisahnya sebagai driver ojek online yang bekerja meski kedua tangannya terbatas hingga siku, dalam tujuh bulan, ia mengalami empat kali pembatalan order dari pelanggan yang takut dan tidak percaya pada kemampuannya. Namun dia membuktikan bahwa dia mampu, dan hingga saat ini, ia masih bekerja sebagai driver ojek.

‘


Diskusi kedua menjelajahi alasan difabel mendaki gunung. Hirza, yang kehilangan penglihatan setelah sebelumnya aktif menjelajah banyak tempat, mengungkapkan bahwa pendakian menjadi jalan pulang menuju kepercayaan diri dan keberanian yang sempat hilang. Sumiati menuturkan bahwa meski tidak bisa mendengar, ia tetap merasakan alam melalui angin di kulit dan ketenangan yang meresap, alam berbicara dalam bahasa yang lebih dari sekadar suara. Ahmad Sanai, yang besar di daerah pegunungan, menyebut mendaki sebagai cara kembali ke kenangan masa kecil yang penuh kedekatan emosional dengan alam.

Diskusi ketiga membuka perspektif dari sisi non-disabilitas. Mbak Rohma mengakui bahwa awalnya ia memandang difabel hanya beraktivitas di rumah, namun DIFPALA meruntuhkan prasangka itu, ia menyaksikan sendiri bagaimana difabel dan non-difabel bisa berjalan setara dan kompak. Bu Widi berbagi bahwa kegiatan mendaki membantu mengurangi rasa takutnya terhadap ketinggian, sekaligus memberinya peran nyata dalam membantu logistik dan kondisi psikologis peserta, termasuk mengingatkan konsumsi obat peserta dengan epilepsi.


Sore harinya, kak Arya Dega mengambil alih sesi dengan memperkenalkan peralatan produksi, kamera, mikrofon, dan pencahayaan, sebelum langsung mengajak peserta ke praktik teknik pengambilan gambar pertama mereka. Tangan-tangan yang baru pertama kali memegang kamera sudah mulai membingkai dunia dengan cara mereka sendiri.
Hari pertama pelatihan menjadi ruang belajar yang membuka wawasan baru bagi para peserta, mulai dari strategi kampanye, pelestarian alam dan satwa liar, hingga teknik dasar dokumentasi visual. Peserta tidak hanya belajar menggunakan kamera dan alat dokumentasi, tetapi juga memahami bahwa film dokumenter dan konten kampanye adalah cara menyampaikan pesan secara jujur, menyentuh emosi, dan mendorong orang untuk peduli serta bertindak. Banyak peserta merasa terinspirasi karena mendapatkan pengetahuan baru, teman baru, serta perspektif baru tentang pentingnya menjaga alam dan satwa liar yang terancam punah. Antusiasme peserta pun semakin besar setelah mendapatkan materi langsung dari narasumber, dan mereka siap mengimplementasikan ilmu tersebut dalam kegiatan LINKSOS ke depannya.
Perjalanan Membangun Keberanian dan Solidaritas

Hari kedua menjadi yang paling berkesan dari seluruh rangkaian pelatihan. Seluruh peserta bergerak menuju Gunung Wedon, dan di sana bergabung pula anak-anak disabilitas mental (autis) dari Panti Karya Asih, sehingga rombongan yang mendaki berjumlah dua puluh satu orang, bersama-sama mendaki Gunung Wedon dengan caranya masing-masing.



Di gunung, kegiatan tidak berhenti pada pendakian. Peserta melakukan penanaman pohon alpukat di Puncak Gunung Wedon sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam dan upaya penghijauan kawasan. Kegiatan dilanjutkan dengan latihan bahasa isyarat bersama yang menjadi momen haru sekaligus penuh tawa. Sembari itu semua, kamera terus berputar, peserta berlatih pengambilan video saat sesi wawancara langsung di lapangan, merekam scene demi scene yang kelak menjadi bahan mentah film dokumenter. Hari kedua ini bukan sekadar pendakian, ini adalah proses penceritaan yang hidup, di mana setiap langkah dan setiap gambar adalah bagian dari film yang sedang dibangun.
Kita adalah Satu Kehidupan



Hari terakhir pelatihan, kak Annisa membuka sesi dengan memperdalam pemahaman tentang sistem dalam kehidupan, dimana kita saling bergantung berinteraksi satu sama lain dalam sebuah ekosistem kak Annisa juga memaparkan permasalahan lingkungan dan satwa terkini dan kampanye Geopix. Sesi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan review hasil dokumentasi dari Gunung Wedon. Pak Arya Dega memandu evaluasi teknis pengambilan video secara menyeluruh: apa yang sudah kuat, apa yang masih perlu diasah, dan bagaimana memperbaikinya dalam produksi berikutnya. Sesi diakhiri dengan praktik penataan ruang wawancara di dalam ruang kantor LINKSOS di MCC, mengatur pencahayaan, sudut kamera, dan latar belakang agar siap digunakan untuk produksi lebih lanjut.
Sungguh tiga hari perjalanan yang padat yang harus berakhir. Meski momen sederhana, tapi sampai dengan saat ini, saya masih merekam kebahagiaan wajah-wajah yang telah belajar, mendaki, dan berkarya bersama.
Saya pulang ke rumah dan merenungkan tentang makna inklusi, yang ternyata mesti memastikan semua orang merasa diterima, dihargai, dilibatkan, dan memiliki kesempatan yang setara tanpa diskriminasi, terlepas dari perbedaan kondisi fisik, gender, usia, latar belakang sosial, budaya, ekonomi, agama, maupun kemampuan, sehingga tidak ada yang ditinggalkan atau disisihkan. Dalam konservasi atau pelestarian alam, hal ini berarti memastikan masyarakat adat, komunitas lokal, perempuan, anak muda, hingga kelompok difabel ikut terlibat dalam menjaga lingkungan dan satwa liar.




