AnimalEnvironmentPeople

Pelajaran dari Balik Jamban: Koeksistensi Manusia dan Orangutan di Kalimantan

Penulis: Mahéng

Orang-orang biasanya dapat pencerahan di tempat keren. Ada yang meditasi di bawah pohon, ada yang rebahan di hammock sambil bikin takarir filosofis, ada juga yang duduk di pinggir sungai mendengarkan kicau burung.

Bahkan ada yang rela bayar mahal buat retreat mindfulness tiga hari dua malam, padahal isinya cuma disuruh diam.

Saya nggak seberuntung itu. Pencerahan saya datangnya malah dari balik jamban. Tempat  manusia biasanya lebih sibuk mikirin botol sampo sudah harus diisi air apa belum ketimbang mikirin makna hidup.

Akhir Juli 2025, di Camp Serumput, sebuah pos kecil di tepi kali di Desa Pangkalan Teluk, Dusun Cali, Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, saya keluar dari kakus setelah menyelesaikan urusan paling manusiawi.

Begitu pintu saya buka, yang nongol bukan udara segar melainkan sosok orangutan.

Namanya Susi. Beratnya mungkin 40 kilo lebih. Dia berdiri tepat di depan pintu, tatapannya tenang. Nggak menakutkan, lebih kayak seorang guru yang habis memeriksa PR murid.

Rasanya seperti doi mau bilang, “Santai saja, Mahéng. Toh di hutan ini kita sama-sama numpang.”

Saya bengong, lalu ketawa kecil, lantas mikir. Ternyata koeksistensi itu nggak selalu teori rumit yang ditulis di jurnal setebal skripsi molor lima tahun.

Koeksistensi bisa lahir dari momen absurd, bikin kita salah tingkah dulu, kemudian sadar belakangan.

Susi, Sang Nenek Hutan

Susi punya riwayat hidup yang bikin dada sesak. Pernah hidup di rantai besi, lehernya luka parah, bahkan ada potongan karet yang menempel di kulit.

Tahun 2011 ia diselamatkan oleh tim Yayasan IAR Indonesia.

Butuh waktu bertahun-tahun untuk bikin dia ingat lagi cara hidup sebagai orangutan. Manjat, bikin sarang, cari makan. Itu adalah hal-hal yang mestinya bawaan lahir. Namun telah hilang karena terlalu lama hidup di rumah “orang kota” di Pontianak.

Lima tahun kemudian, Susi dilepas ke Hutan Lindung Gunung Tarak. Tahun 2020, ia bahkan melahirkan anak bernama Sinar. Kehadiran Sinar jadi simbol terang, bukti kalau luka panjang masih bisa melahirkan harapan.

Sekarang ia sering mampir ke Camp Serumput. Kadang cuma lewat, kadang nongkrong di dekat dapur, kadang muncul di saat paling nggak diduga, termasuk depan jamban.

Petugas patroli di camp memanggilnya Nenek.

Biasanya ia duduk sebentar lalu pergi lagi, mungkin sekadar memastikan manusia di camp masih ingat kalau hutan ini rumahnya juga.

Orang Kota, Orangutan, dan Rebutan Lahan

Kalau ceritanya berhenti di jamban, koeksistensi mungkin terdengar sederhana. Kenyataannya jauh lebih ruwet.

Populasi orangutan di Ketapang kian berkurang, dan sebagian harus hidup berdampingan dengan kebun sawit, tambang, bahkan ladang.

Begitu makanan di hutan makin tipis, mereka turun cari alternatif. Dan alternatif itu ya kebun orang. Sama seperti kita kalau dompet lagi kosong, ujung-ujungnya ngintip mi instan di rak dapur.

Bedanya, orangutan nggak bisa masak pakai kompor. Mereka langsung panjat, petik, makan. Praktis, bikin yang punya kebun geleng-geleng.

Buat petani, situasi ini jelas bikin pusing. Buat orangutan, ini urusan isi perut. Sama-sama punya alasan, sama-sama merasa benar. Kalau ketemu di waktu yang salah, jadinya ribut.

Waktu ngobrol sama beberapa warga Ketapang, mereka cerita dengan nada datar tapi getir. Saya sampai kehabisan bahasa untuk menuliskannya di esai ini.

Namun sederhananya begini: kalau ada orang yang babat hutan, buka tambang, atau tebang pohon sembarangan, itu bukan semata karena iseng.

Seringkali justru karena kalah sama perusahaan besar. Tanah yang tadinya jadi pegangan hidup sudah habis.

Yang disebut ilegal itu bukan pilihan mudah, itu pilihan terakhir.

Kalau direnungi lagi, orangutan masuk kebun sawit karena lapar. Manusia babat hutan juga karena lapar. Melihat koeksistensi hanya dari sisi manusia atau hanya dari sisi orangutan hasilnya muter-muter kayak lagu koplo di warung kopi, nggak pernah benar-benar selesai.

Inilah paradoksnya: warga dan satwa sama-sama lapar, sama-sama cari kursi kosong, tapi kursinya makin sedikit.

Situasi ini mirip rebutan kursi di KRL. Kursinya tinggal satu, semua orang pura-pura sibuk main gawai tapi matanya sudah fokus. Begitu ada yang berdiri sebentar, langsung disambar orang lain.

Nggak ada yang sepenuhnya salah, semua cuma pengen duduk biar nggak encok.

Di DPR ceritanya lebih absurd lagi. Kursi di sana diperebutkan dengan alasan paling pantas, paling layak, paling suara rakyat. Begitu sudah duduk, sering kali justru amnesia soal rakyat lain yang suaranya nggak pernah masuk ruang sidang.

Suara petani yang kebunnya dimasuki orangutan, atau suara orangutan yang hutan rumahnya sudah habis.

Pertengkaran manusia dan satwa ini jarang sekali dibawa ke meja rapat. Yang ramai justru debat soal tunjangan, atau anggaran perjalanan dinas yang berakhir dengan plesiran.

Koridor, Literasi, dan Speak for the Species

Kalau orangutan dan manusia sama-sama lapar, berarti butuh jalan keluar biar nggak terus-terusan rebutan kursi.

Para peneliti dan pegiat konservasi sudah lama mendorong pembuatan koridor satwa di lahan sawit dan pemulihan sempadan sungai.

Idenya sederhana, orangutan bisa jalan dari satu hutan ke hutan lain tanpa harus mampir ke kebun warga. Itu mirip jalur busway, cuma kali ini penggunanya orangutan. Nggak perlu nunggu lampu merah, nggak perlu masuk jalan tikus, tinggal lewat lorong pohon yang sudah disiapkan.

Sebuah riset berjudul Habitat Suitability Models Of Bornean Orangutan (Pongo pygmaeus pygmaeus Linn, 1760) In Wildlife Corridor, Kapuas Hulu, West Kalimantan menemukan bahwa lorong pohon di tepian sungai punya peluang hampir 50 persen dipakai orangutan sebagai jalur lewat.

Tim riset bilang, koridor satwa itu semacam aplikasi navigasi yang otomatis mengarahkan ke rute paling aman. Kalau manusia punya Google Maps, orangutan punya daun maps bawaan alam.

Masalahnya, bikin koridor nggak semudah di iklan biskuit. Diputar, dijilat, dicelupin, beres. Kalau cuma diputar-putar, masih ada yang bisa menjilat atau ada yang nggak setuju dicelupin.

Pemulihan hutan butuh upaya lebih dari itu, termasuk komitmen perusahaan, pekerja, juga warga.

Sebab itu saya sempat mikir, orangutan ini kan nggak pernah bikin konferensi pers atau nulis esai panjang di Kompasiana buat jelasin posisinya, apalagi ngotot minta koridor satwa.

Jadi ya Kompasianer yang mesti Speak for the Species — entah nanti tulisannya menang lomba atau cuma jadi arsip pribadi, yang penting suaranya tetap sampai.

Dari situ lahir gagasan literasi satwa, supaya “orang kota” paham kalau orangutan bukan hama, melainkan tetangga yang kebetulan numpang hidup di rumah yang lebih dulu kita klaim.

Obrolan ini juga sering nyambung ke ide kedaulatan ekologis yang digelorakan teman-teman Geopix.id, dengan pesan sederhana bahwa alam dan satwa punya hak hidupnya sendiri, bukan sekadar dianggap gudang bahan baku yang bisa dipakai sesuka hati.

Mereka bikin kita ingat kalau bicara konservasi itu bukan cuma soal menyelamatkan hewan karismatik di poster, tapi juga soal menyelamatkan masa depan manusia itu sendiri.

Belajar Tinggal Bareng Orangutan di Kontrakan Bumi

Susi yang nongol di depan jamban waktu itu sebenarnya sudah cukup jadi guru buat saya. Dia nggak ngomel, nggak kasih wejangan, cuma berdiri tenang seolah bilang ayo belajar berbagi ruang.

Koeksistensi ternyata bukan teori ribet. Ia bisa hadir dari momen tatap-tatapan canggung dengan orangutan setelah urusan perut selesai.

Sama seperti kita yang suka bingung mau isi ulang botol sampo dengan air atau beli baru, orangutan juga bingung harus isi perut di mana. Cuma, kalau kita salah ambil keputusan, rambut lepek. Kalau mereka salah, hidupnya bisa hilang.

Dan ujung-ujungnya kita juga yang rugi, karena hutan yang habis nggak pernah bisa dibeli lagi di convenience store terdekat.

Hidup berdampingan dengan orangutan mirip tinggal di kontrakan bareng teman beda daerah. Pagi-pagi ribut karena antre kamar mandi, sore dapur penuh panci gosong tapi nggak ada yang mau ngaku itu perbuatan siapa.

Kadang mangkel, kadang bikin pengen cubit ginjalnya, anehnya kalau salah satu pindah, kontrakan jadi sepi dan biaya sewa malah terasa lebih berat.

Kehilangan orangutan berarti kehilangan hutan yang sehat, udara yang layak, dan penjaga alam yang bikin bumi tetap waras.

Koeksistensi bukan soal siapa paling kuat, melainkan siapa yang rela geser sedikit biar semua bisa muat.

Dan percayalah, antre kamar mandi di kontrakan masih lebih mending ketimbang antre hirup oksigen di bumi yang makin rusak.

Pada titik ini, Coexistence: harmoni manusia dan satwa liar—bagaimana kita bisa hidup berdampingan? bukan lagi sekadar subtema lomba, melainkan pertanyaan sehari-hari. Jawabannya bisa muncul dari mana saja, bahkan dari depan jamban.

Kalau gagal kita jawab, jangan-jangan kita bukan cuma gagal berbagi kontrakan dengan orangutan, tapi sama-sama jadi gelandangan di planet bumi.

 

________

Penulis adalah pemenang juara 3 lomba artikel kategori bahasa Indonesia yang diselenggarakan secara kolaborasi oleh Geopix, Lestariana dan Kompasiana dalam rangka World Animal Day 2025

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button