Selarik Harapan dari Candi Muaro Jambi
Oleh: Annisa Rahmawati

Jambi, 28 Februari 2026. Saya berdiri cukup lama di antara situs candi Muaro Jambi yang lengang dan reruntuhan bata-bata merah. Keheningan itu merangkak menjadi sunyi yang sakral melewati pepohonan yang rindang. Waktu seolah melambat di tempat ini, tepatnya di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, di tepian sungai Batanghari. Tempat dimana reruntuhan peradaban besar yang pernah berjaya di wilayah Provinsi Jambi. Langkah kaki saya menapaki sekitar 5 km dari Candi Kedaton, terasa makin ringan, mengantar pikiran dan imajinasi saya pada pertanyaan sederhana: bagaimana sebuah peradaban besar berskala internasional pernah tumbuh dan berjaya di Indonesia, tepatnya di Sumatera bagian tengah.

Kompleks Candi Muaro Jambi merupakan sebuah situs sejarah, jejak kejayaan intelektual dan kebanggaan spiritual Nusantara pada masa Sriwijaya yang diawali sekitar abad 7-8 M. Dengan kawasan yang sangat luas yaitu 3.981 hektar, situs candi-candi tersebar, yang terhubung dengan kanal-kanal kuno. Tempat ini diyakini merupakan salah satu kompleks biara dan pusat pembelajaran semacam universitas bercorak keagamaan Buddha terbesar di Asia Tenggara. Hingga saat ini, keindahan lanskapnya masih memancarkan kemegahan, ketenangan dan kedamaian yang sama.

Peradaban yang membangun komplek Candi Muaro Jambi memahami sesuatu yang tampaknya mulai kita lupakan sungai, hutan, dan ruang hidup disekitarnya sebagai satu kesatuan pengelolaan bukan sebagai hambatan pembangunan, melainkan bagian dari denyut kehidupan pembangunan itu sendiri yang mesti dapat dikelola dengan lestari. Suatu pembelajaran dan sebagai pencerahan yang seharusnya dapat menjadi cermin bagi kondisi lingkungan di Sumatera saat ini.

Sumatera ‘modern’ saat ini sedang menghadapi tekanan yang sangat besar dari eksploitasi sumber daya alam dan reduksi makna-makna spiritualitas terhadap alam. Hutan berkurang drastis, lanskap terfragmentasi, dan satwa liar kehilangan ruang hidupnya. Yang terdekat dari Muaro Jambi adalah yang terjadi khususnya di Bentang Alam Tiga Puluh, pembabatan hutan, perambahan, pembakaran, konflik antara manusia dan gajah sumatera si Datuk Gedang yang semakin meningkat, sering kali berakhir dengan kematian, baik bagi manusia maupun satwa liar. Bentang Alam Bukit Tigapuluh merupakan salah satu habitat penting terakhir gajah sumatera di wilayah Jambi yang dihuni tidak lebih dari 120 individu gajah sumatera. Fragmentasi terhadap habitat mereka terus meningkat secara luar biasa, termasuk dengan berdirinya pagar listrik di wilayah habitat kritisnya yang semakin mempersempit ruang jelajah gajah sumatera yang selama ribuan tahun menjadi bagian dari keseimbangan alam.

Kondisi kontras ini terasa semakin tajam. Peradaban masa lalu yang dibangun selaras dengan kondisi alam mampu mencapai masa keemasan tersebut, membutuhkan upaya dan kesabaran manusia berabad-abad lamanya, tetapi di sisi lain dampak yang yang terjadi dari kerusakan sumber daya alam dan lingkungan, serta salah kelola sumber daya alam di Sumatera saat ini terjadi hanya dalam hitungan tahun yang dapat meluluh lantakkan dan meruntuhkan seluruh bentang alam di wilayah ini.

Menyusuri tapak-tapak bangunan candi, ditemani perjumpaan dengan sekelompok keluarga lutung hitam yang berayun-ayun menyapa di antara pepohonan dan jalan-jalan yang bersih menuju Candi Gumpung yang diteduhi pepohonan,saya kemudian membayangkan para pelajar dan biksu yang dahulu datang dari berbagai penjuru Asia untuk belajar dan bermukim di sini dalam harmoni dengan alam lingkungan. Mereka mencari pengetahuan, kebijaksanaan, dan pemahaman tentang kehidupan. Salah satu pelajaran terbesar yang tersisa bagi kita hari lebih dari sejarah kejayaan masa lampau, tetapi juga mengenai kesadaran akan keseimbangan dan kelestarian.

Komplek Candi Muaro Jambi mengingatkan kita bahwa manusia pernah hidup sebagai bagian dari alam, bukan sebagai penguasa serakah yang memaksakan kehendaknya. Tata ruang kawasan ini menunjukkan hubungan yang selaras antara aktivitas manusia dan bentang alam dan lingkungan disekitarnya, sesuatu yang kini tampak terasa semakin langka bahkan ditinggalkan demi keuntungan sesaat

Harmoni pembangunan dan pengelolaan lingkungan yang ditunjukkan pada bentang alam di komplek Candi Muaro Jambi, membawa ingatan saya untuk menengok kembali Bentang Alam Bukit Tiga Puluh, saat ini penyelamatan bentang alam ini sebenarnya menjadi ujian bagi kita semua, utamanya bagi para pemangku kepentingan. Jika kawasan itu gagal kita jaga, kita akan kehilangan hutan habitat gajah sumatera dan satwa liar lainnya, dan juga kehilangan kesempatan untuk membuktikan bahwa pembangunan yang lestari dengan mengedepankan perlindungan sumber daya alam dapat berjalan beriringan.

Semakin hari, semakin sering kita mendengar berita kematian atau pembunuhan gajah sumatera di berbagai lanskap kritis di Sumatera. Ini adalah pertanda bahwa keseimbangan ekologis disana sedang mengalami keruntuhan. Jangan sampai kisah-kisah tragis populasi gajah sumatera yang terjadi di Tesso Nilo, Seblat, Way Kambas, terulang lagi di Bantang Alam Bukit Tiga Puluh.

Candi Muaro Jambi membawa harapan yang bukan sekedar pada visualisasi bangunan-bangunan peradaban tinggi yang terbangun tetapi juga sebuah pembelajaran yang harus terus digali melalui pemaknaan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang harmonis dengan alam. Bata-bata yang tetap berdiri setelah berabad-abad menunjukkan bahwa peradaban yang bertahan adalah yang berakar pada harmoni. Masa depan tidak selalu harus mengikuti arah kerusakan yang kita lihat saat ini. Selarik harapan muncul, seandainya kita semua dapat belajar kembali dan menemukan serta membenahi kembali keselarasan pembangunan dengan alam seperti yang ditunjukkan oleh peradaban keemasan yang membangun komplek Candi Muaro Jambi, seharusnya kita akan mendapatkan kondisi hutan dan lingkungan hidup yang lebih baik secara berkelanjutan.
Warisan budaya dan warisan alam sebenarnya adalah satu cerita yang sama tentang bagaimana manusia memilih cara hidup di bumi ini. Jika kita mampu menjaga hutan, memulihkan koridor satwa, dan menghentikan eksploitasi yang melampaui batas, maka Muaro Jambi tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga simbol arah baru bagi masa depan yang memandu para pemangku kepentingan di Jambi.

Meninggalkan sunyi kompleks candi itu, saya masih optimis untuk alam yang lestari bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya Jambi. Karena sejarah telah membuktikan bahwa manusia pernah memilih kebijaksanaan. Itulah yang mesti kita bangkitkan.
Dan pilihan itu masih ada di tangan kita hari ini.
*Tentang Penulis: Penulis adalah Senior Wildlife Campaigner dan Co-Director Geopix
*Photo credit @Geopix




